Lanjutan Cerita
Dari Banda Aceh menuju Pidie Jaya, nginap semalam – lalu putar balik ke arah Banda Aceh, belok kiri pas di persimpangan Mesjid Beureunun, tancap gas menuju Tangse, Kabupaten Pidie.
Keterangan Foto : Perbutikan yang di tutupi kabut itu adalah tujuan kita.
Hanya butuh waktu sekitar satu jam dari simpang Beureunun menuju Tangse, namun tujuan kita kali ini adalah gampong Pulo Seonong – salah satu gampong di Kecamatan Tangse yang letaknya jauh dari hiruk-pikuk kecamatan, gampong ini sangat jauh tertinggal dalam hal pembangunan. Sebagian jalan ada yang belum pernah merasakan aspal panas, hanya ada bebatuan tajam dan lubang-lubang kecil di tengah jalan, selebihnya hanya butiran-butiran debu yang kesepian.
Satu jam lagi waktu yang harus kita tempuh dari Kecamatan Tangse ke gampong Pulo Seunong. Getaran di dalam mobil persis seperti kursi pijat berteknologi tinggi yang biasanya berada di Mall-mall untuk memanjakan para kaum bapak ketika lelah menunggu dan menanti kaum ibu berbelanja. Sungguh waktu yang singkat untuk sebuah pijatan dengan teknologi tinggi, membuat perjalanan sore itu begitu menenangkan. Berharap dapat pijatan lebih lama lagi, tapi apadaya kita sudah sampai dengan selamat. Rumah Aceh itu menyambut kami dengan yel-yel teriakan riang anak-anak kecil, yang setiap sore memanfaatkan halaman rumah Aceh itu bak Stadion sepak bola.
Keterangan Foto : Pan langsung diturunkan sebagai pemain pengganti detik itu juga.
Rumah Aceh itu masih berdiri kokoh, sejak dibangun tahun 60an, banyak coretan alam yang tersimpan jelas di balok kayu penopang rumah Aceh tua itu. Banjir bandang datang berkali-kali berusaha mengusik keberadaannya, tapi rumah Aceh tua itu tetap berdiri kokoh menyelamatkan seluruh harta benda empunya yang berada diatasnya.
Mak Ti, begitu kami memanggilnya, seorang Ibu yang super baik bagi anak-anaknya, juga seorang ibu yang penuh kasih sayang kepada siapa saja yang datang ke rumahnya. Wajahnya masih sama sejak pertama aku melihatnya di Tahun 2015 silam. Pertama kali Aku kesini dengan Pan, seniorku di Mapala Hukum Unsyiah yang pernah menjadi relawan Tangse pada tahun 2012.
Ceritanya begini : Bukan cerita banjir bandang, tapi cerita Pertama kali kesini pada tahun 2015
Selesai survey hutan di Nagan Raya dan Meulaboh, sekitar tengah malam Pan menawarkan aku untuk pulang ke Banda Aceh lewat dari jalan tengah Tangse, nanti bisa tembus ke Sigli lewat dari kampus Unigha Sigli.
"Nanti di Tangse kita singgah tempat Mak Ti, mamak angkat ku", kata Pan.
Aku belum pernah kesana sebelumnya, namun karena ajakkannya di tambah-tambah bumbu penyedap rasa.
"Nanti disana ada duren, bisa mandi air panas, bisa mandi sungai".
Ajakan itu langsung aku iyakan. Tidak mungkin aku melewatkan sensasi 3 in 1 ini. Satu tempat tapi banyak kenikmatan didalamnya. Suatu ajakan yang tidak mungkin tidak aku turuti bukan?
Jadi lah malam itu kami berangkat dari Meulaboh menuju Pulo Seunong, Tangse. Kami tiba disana pukul 03.00 dini hari. Dinginnya malam yang berada di daerah pegunungan, memang menurut peta topografi, gampong ini berada di atas ketinggian 1,257 Mpdl, membuat suasana malam itu begitu bergairah merindukan pelukan. Hah.
Selesai memarkirkan motor di halaman rumah, kami duduk santai dibawah rumah Aceh tua itu, di temani burung-burung hujan(swallow) yang sudah sejak lama membuat sangkarnya di selah-selah lantai papan rumah Aceh tua itu. Mereka banyak dan beranak-pinak disitu. Kami menunggu pagi datang - segan rasanya mengganggu tidur si empu rumah Aceh tua yang mungkin sedang mencari kehangatan dibalik selimut tebalnya.
Keterangan Foto : Burung dan Sangkar yang betah bertahun-tahun tinggal di bawah rumah Aceh tua itu.
Baru sekitar 5 menitan beristirahat diatas peureude trieng yang ada di bawah Rumah, terdengar suara langkah lemah dari atas rumah Aceh tua itu. Mak Ti turun melalui tangga secara berlahan, dia tak banyak bertanya. Kami cuim tangan lembutnya.
"Sehat mak? Alhamdulillah", sautnya.
Dia meninggalkan kami sebentar, masuk kerumah sebelah. Mungkin mau cuci muka, pikirku. Tapi tidak pun lama dia kembali dengan menenteng 2 gelas kopi panas dan setoples kue kering.
Jam 3 malam, baru bangun tidur, matanya masih sembab, jalannya masih hoyong, tapi bisa-bisanya dia menyiapkan kopi panas di cuaca yang memang begitu dingin untuk kami.
Selesai di hidang kopi, dia bicara sebentar dengan kami, menanyakan kabar, dari mana dan lainnya - lalu pamit sebentar ke atas. Aku dan Pan segera menyuruput kopi panas yang di hidang, mencoba menghangatkan badan yang mulai menggigil sambil mengganti pakaian dan berberes-beres.
Tidak lama Mak Ti turun lagi, duduk bicara dengan kami dan menawarkan segera tidur.
Dengan senang hat, bergegas naik ke atas rumah Aceh tua itu. Sambil segera menghabiskan kopi dan sibak rukoek teuk.
*"Yok kita tidur, kalau kita engak tidur, mamak juga enggak tidur lagi tu", *begitu kata Pan.
Ku buka pintu lantai atas rumah Aceh, sedikit terkejut melihat ruang tengah rumah Aceh tua itu sudah di sulap bak hotel berbintang, di hentangkan kasur, dengan sepray rapi dan selimut tebal yang wangi. *ah.. * tidur malam yang indah di hawa yang sejuk.
Malam itu kami tertidur pulas dan baru terbangun siangnya sekitar pukul dua belas.
Keterangan Foto : Suasana di dalam rumah Aceh tua itu masih sama ketika kami pergi kemarin, masih di hentangkan kasur seperti kami pergi 2015 silam.
Siangnya kami duduk di bawah rumah Aceh tua itu sambil menghirup nafas panjang dan melepaskannya perlahan, menggantikan nafas-nafas knalpot selama perjalanan panjang, dengan nafas segar hawa dingin pedesaan.
Kopi siang sudah di hidang lagi tanpa kami minta. Duduk santai menikmati kopi dan kue basah di siang hari dengan hawa pagi dibawah rumah Aceh, diatas peureude trieng adalah pilihan kami.
Dulu Abu (suami Mak Ti) masih ada, masih sehat, dia yang biasa menemani kami ngopi, tapi dia tak banyak bicara, hanya raut wajahnya yang menjelaskan dia sangat bahagia kami datang. Dia selalu duduk di atas kursi di bawah rumah Aceh tua, bersandar pada tiang terdepan dari rumah itu. Seolah sedang menjaga kami yang tengah bersenda-gurau di belakangnya di atas peureude trieng.
Mataku berkeliling menyisir sekitaran rumah Aceh tua itu. Bersih tidak ada sampah secuil pun, didepannya ada sebuah sungai kecil tempat para Ibu mencuci pakaian, anak-anak mandi dan bebek-bebek berenang. Airnya mengalir jernih memenuhi kebutuhan air sampai ke seluruh kabupaten Pidie.
Aku tersenyum melihat baju kotor yang semalam kami gantung di tiang-tiang rumah Aceh tua itu sudah berpindah ke atas tanaman pagar tempat biasa Hanum (anak Mak Ti) menjemur pakaian yang baru dicuci. Sepatu kami juga ada disana, aku hanya diam sambil mencokeh Pan dengan mengarahkan lirikan mataku ke arah jemuran. Pan membalas kedipan mataku dengan mata yang santai yang ingin mengatakan "mamak gak sanggup liat kotor-kotor, semua yang kotor pasti di bersihkan". Aku paham, dan membalasnya dengan mengedit mimik wajahku sedikit terkejut riang sambil tersenyum bahagia.
Keterangan Foto : Rumah samping dibawah rumah Aceh tua
Sore itu, selesai makan kami bergegas ke sungai, menjemput suasana surga yang di gambarkan dalam Al-Qur'an, Surat Al - Ihsan, Ayat 13-14 :
"Di dalamnya (surga) mereka tidak merasakan terik matahari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon) surga itu dekat diatas mereka dan buahnya dimudahkan untuk memetiknya dengan semudah-mudahnya".
Keterangan Foto : Air Sungai telah bersatu dengan Air panas, membuatnya hangat, di cuaca yang dingin.
Disana, dipinggir sungai itu, air panas mengalir dan bersatu dengan air sungai yang dingin. Tangse memang banyak menyimpan uap bumi, Pulo Seunong adalah tempatnya. Dari kejauhan sudah terlihat berkabut menunjukkan rasa sejuk nan segar. Dekat di pinggir sungai ada sebuah pondok lapuk tempat bersantai, cocok untuk menikmati dan memandangi pemandangan alam persawahan dan barisan perbukitan hijau yang diselimuti kabut.
Indah nian alam mu Tuhan.
Bersenang-senang adalah tujuan kami kemari, berendam air panas di latarbelaknya ada sawah dan bukit dengan pemandangan hijau yang menggairahkan.
Inikah Surga?
Kurasa bukan, karena jujur aku belum pernah kesana dan belum ada tujuan travel di traveloka atau travel lain yang menawarkan liburan ke Surga.
Palingan hanya di buat iklan "Sekiping Surga di Dunia" untuk memikat para traveller, padahal mereka sama sepertiku, belum pernah ke surga.
Tapi dalam ayat Al-Qur'an ada di jelaskan banyak tentang suasana di dalam surga, salah satunya Surat At-Taubah ayat 72 :
"Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan yang besar."
Jelas itu bukan surga kan? Ini tidak kekal, ini hanya sementara saja, kami hanya tiga hari disana menikmati keindah alam Tangse dan merasakan kasih sayang orang sekitar, juga merasakan kasih sayang Mak Ti yang tidak melahirkan kami seperti kasih Ibu sendiri.
Mak Ti koen mak lon, Mak Ti ka lage mak lon.
Kali ini kami datang lagi Mak Ti, menjemput rindu yang terpendam lama. Rumah Aceh yang sama, jamuan yang sama dan surga sementara yang sama. Hanya cerita yang berbeda.