Di tahun-tahun pahit sebelum smartphone merajalela seperti sekarang, bulan puasa memang sudah diyakini seperti ini. Tidak ada satupun yang berbeda, baik Tarawih maupun Tadarusnya. Tapi tunggu, walau bukan ritual wajib dan sama sekali tidak diwajibkan, tradisi asmara subuh sepertinya memang dijalankan. Dan kudengar perilaku itu sekarang sudah hilang. Apa itu benar?.
Kalau kabar itu benar adanya, sungguh itu suatu yang sangat baik dalam ritual menjalani ibadah puasa. Bersebab, tradisi asmara subuh memang bukan budaya asli masyarakat kita, khususnya Aceh. Dulu, tradisi asmara subuh ini hanya digandrungi oleh muda-mudi saja. Tentang tujuan sebenarnya dari tradisi primitif ini juga gak jelas kayaknya. Ia datang tanpa diundang, pergi pun tidak dilarang.
Mungkin. Ini hanya mungkin. Ada banyak Steemian yang gak pernah merasakan bagaimana suasana asmara subuh. Kayaknya ini hanya akal-akalan remaja saja, yang ingin jumpa atau sekedar main-main usai Shalat Subuh di Bulan Ramadhan. Perlu diingat kalau ini sama sekali gak ada kaitannya dengan Shalat Subuh, baik Iman maupun Makmumnya.
Kebiasaanya, usai Shalat Subuh, kadang pun tidak sempat menunggu selesai Imam membaca Do’a. Remaja putri langsung berhamburan keluar masjid atau surau dengan masih terbalut mukena. Sedang remaja putra, dengan peci di kepala dan sarung yang dililit di pinggang atau diletakkan di pundak. Mereka semua berjalan menyusuri jalan yang belum banyak dilalui kendaraan.
Sebagian gerombolan remaja lain memilih duduk di persimpangan jalan. Mereka menunggu rombongan remaja putri yang lewat di depan lokasi tongkrongan. Jika sudah begini, siulan usil dari gerombolan remaja putra sudah pasti tidak bisa dihindari. Pun remaja putri bersikap malu-malu kucing menanggapinya.
Masa menikmati asmara subuh memang tidak lama. Sekira 60 menit saja sewaktu mentari masih berwarna jingga. Dalam tenggat waktu itulah seluruh suka cita dan cinta monyet para remaja ditumpahkan sebisanya di jalan-jalan kota atau desa. Usai masa itu, suasana Ramadhan kembali pada fitrahnya dan remaja kembali ke rumah orang tuanya.
Kalau bicara asal muasal dari asmara subuh juga tidak jelas di mana ujung dan pangkalnya. Namun sejumlah berita mengatakan ia tumbuh karena diakui dan digandrungi oleh muda-mudi yang ingin menunjukkan eksistensinya di bulan Ramadhan. Walau jujur saja, ini bukan cara yang baik untuk menjalin ukhuwah antar sesama di bulan penuh berkah. Karena tanpa disadari perilaku ini cenderung mengarah kepada dosa.
Memang ada kata gembira ketika mengingat kata asmara subuh, itu karena ada kenangan masa remaja yang terselip di sana. Walau sekarang aku tersadar bahwa itu bukan sebuah budaya yang layak dipertahankan apalagi dihidupkan, karena itu memalukan. Namun untuk dikenang kurasa boleh-boleh saja.
Dan Alhamdulillah jika budaya primitif ini sudah benar-benar hilang. Jika belum, semoga cepat-cepat bisa dihilangkan.