sumber: LARUNO
Suatu ketika, aku menghadap ke kepala prodi kampusku. Aku sudah lupa untuk tujuan apa, saat kuingat-ingat kembali, entah ingatan ini benar atau tidak, sepertinya aku sedang mengajukan tiga outline untuk skripsiku.
Saat sedang konsultasi, tiba-tiba telepon genggam Kaprodiku berbunyi. Dari bunyinya yang singkat, sepertinya ada SMS yang masuk. Kaprodiku membuka HP jadulnya, ia pun membaca sebuah pesan dari nomor asing. Tak kuduga tiba-tiba kaprodiku menyodorkan telepon genggamnya ke arahku.
“Rini, kalau seandainya kamu di posisi saya, kamu adalah seorang dosen, ada mahasiswa mengirim pesan seperti ini, kira-kira perlu dibalas atau tidak ya?” tanya Kaprodiku.
Pesan singkat itu berbunyi, “Bpk ada dmana? Sy mw ktemu bpak, mw bimbingan.”
Saya pun diam dan berpikir sambil berkata “Hmmmmm....” Tiba-tiba Kaprodiku berbicara, “Apa menurutmu pesan ini santun?”
Aku pun menjawab, “Kalau saya jadi Bapak, mungkin tidak saya balas, Pak. Pertimbangannya: untuk SMS ke dosen, karena saya mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia, biasanya saya tidak akan menyingkat kata, membukanya dengan salam, dan mengakhirinya dengan identitas.”
Tiba-tiba aku seperti merasa bersalah. Dalam hati aku membatin kalau aku sudah jahat sekali meracuni kaprodiku. Mahasiswa itu pasti sial sekali tidak dibalasnya. Untuk bahasa dalam SMS memang boleh-boleh saja disingkat. Aku ingin sekali mengatakan kepada Kaprodiku agar ia membalas saja pesan itu, tetapi saat aku hendak mengutarakannya, Kaprodiku pasti berpikir kalau aku seorang yang plin-plan.
“Nah, kamu benar. Saya biasa selalu menjawab pesan-pesan yang santun. Bahasa itu menunjukkan bangsa, tutur kata seorang mahasiswa adalah cerminan dari laku hidup sehari-hari. Saya juga berpikir sama seperti kamu. Pesan seperti ini sebaiknya diabaikan saja,” ucap Kaprodiku. Aku yang merasa bersalah, langsung menjawab, “Maaf, Pak, tapi mungkin mahasiswa itu sangat ingin bertemu dengan bapak.”
“Ya, kita tunggu saja nanti sampai yang butuh nelpon,” ucap Kaprodiku. Kami lalu kembali membahas calon proposalku. Selang tak berapa lama, telepon genggam kaprodiku berbunyi lagi. Kali ini deringnya lebih panjang. Kaprodiku mengambil teleponnya yang ada di meja. Ia mengangkat telepon itu. Ternyata yang menelpon adalah mahasiswa yang mengirim SMS tadi.
sumber: bobo.id
Kaprodiku menasihatinya untuk perihal sopan santun dalam berbahasa. Yangkuingat dan selalu terngiang-ngiang dalam telingaku adalah ucapannya yang begini.
“Kamu itu kuliah di jurusan Bahasa Indonesia, seharusnya kamu menggunakan bahasa yang baik untuk menghubungi dosenmu!”
Lalu telepon itu dimatikan sepihak oleh Kaprodiku, yang merantau ke Jambi dari Pulau Jawa.
“Pak, apa itu tidak terlalu kejam?” tanyaku.
“Loh, kamu nguping, toh?”
“Ndak lo Pak, saya kan di depan Bapak. Mana mungkin saya tidak mendengar,” jawabku sambil menyeringai dan setengah takut kena marah.
“Saya pikir saya sudah melakukan hal yang tepat, ini pembelajaran buat orang-orang yang suka bermain-main dengan bahasa,” ucap kaprodiku. Kami lalu kembali membahas outline.