Kalau saya jadi dosen, saya akan jadi dosen yang friendly , bisa jadi guru, bisa juga jadi teman.
Ucapan yang cukup sering saya ucapkan beberapa tahun silam. Dan sepertinya, malaikat ikut mengaminkan.
Image source :gettyimages
Setahun setelah selesai studi, di luar rencana yang emang tidak pernah direncanakan, saya benar-benar jadi dosen. Artinya, kalimat saya di awal tadi, harus terealisasi. Hiks, beraatt
Hari ini, yang berat itu..seakan menjadi sedikit lebih ringan.
Pagi tadi saya mengirimkan beberapa pesan pribadi untuk mahasiswa asisten. Kelas praktikum tanpa asisten itu berat anak muda. Apalagi untuk saya yang management mengajarnya masih sangat amburadul. Ucapan terima kasih dalam bentuk ngopi bersama yang disambut dengan anggukan *eh..nulis gimana ngangguknya ya :D . Ngopi bersama yang biasanya akan berlanjut ke curhat ini itu, ngobrol dari A sampe z , terkadang juga ada selipan konsul jurnal dengan harapan bisa dipublikasi nantinya. Hehe, namanya juga usaha. Kayak cerita Hayati di halaman sebelah sana *Opss
Di tengah hecticnya mengisi nilai di portal, seorang mahasiswa yang saya yakin cukup pintar untuk mendapatkan GPA 4 di transkripnya menghubungi saya. Karena kondisinya, semester ini berlalu begitu saja. Nilai memang bonus yang menyenangkan katanya, tapi yang ia sesali justru tidak bisa menepati janji menyelesaikan semester ini dengan baik. Gagal jadi asisten ibu, katanya lagi. Kecewa ? Sempat ada, tapi setiap orang punya kondisi berbeda. Itu harus bisa diterima.
"Bu, nama saya A, dari unit sekian. Kapan ibu bisa ditemui? Memungkinkan untuk konsul sedikit bu? " pesan mahasiswa masuk ke whatsapp saya. Buru-buru saya balas pesan itu. Pesan dari salah satu mahasiswa, sebut saja Bunga, yang saya hindari memandang matanya. Seperti melihat diri sendiri di masa-masa sulit dulu. Gak pede, takut salah, terlalu merendahkan diri.
Pukul 2 siang, sekembali dari lunch break , saya ke kantin untuk mengisi ulang amunisi kopi siang ini. Kerjaan masih numpuk soalnya. Bunga datang menghampiri saya.
"Maaf ya bu, ngaret" , katanya samba nyengir gak enakan.
Dan pembicaraan pun berlanjut ke konsul yang sempat ia singgung di pesan whatsapp tadi. Karena ada janji dengan mahasiswa lain, pembicaraan itu tak bisa berlangsung lama. Sebelum pulang, Bunga bilang, tetaplah seperti sekarang, seperti yang ia kenal, jangan berubah jadi dosen serem ya bu, pesannya lagi, sambil nyengir pula.
Sederhana pesannya, tapi hati saya berbuncah senangnya.
Tiga semester, ratusan mahasiswa dari sekian banyak kelas. Mulai dari ditolak mentah-mentah, dipertanyakan ini itu, sampai kemudian beberapa mulai berani gabung jika ngopi di tempat yang sama. Dipesankan untuk jadi dosen seperti sekarang ini, bolehkan saya mengartikan, bahwa perlahan..saya bisa menjadi seorang pengajar seperti yang saya ucapkan bertahun-tahun lalu. Dan rasanya tak terkira, terharu, senang, tapi juga jadi tantangan untuk bisa jadi lebih baik kedepannya.
Dosen yang katanya cuek ini, masih senyum-senyum gembira. Senang :D