Malam kemarin, hujan turun membasahi bumi bagian Tangerang Selatan, tepatnya di Ciputat, perbatasan Kabupaten Tangerang Selatan dan Ibukota Jakarta. Berbekal jas hujan murahan, saya dan teman saya keluar dari rumah tempat kami tinggal. Tujuan kami hanya untuk menikmati secangkir kopi Aceh, memang pahit, tapi dengan ditambah sedikit gula, maka nikmatnya terasa.
Kami duduk di daerah meledaknya bom beberapa tahun yang lalu, pasti kalian pernah mendengar tragedi bom sarinah. The Aceh Connection, sebuah warung kopi yang pengunjungnya bisa dibilang rata-rata kalangan menengah ke atas. Memang kami bukan kalangan itu, tapi bisalah sesekali menikmati gaya hidup seperti mereka.
Saya sudah lama merindukan kopi Aceh, tapi di sini susah menemukan warung kopi yang khas Aceh nya benar-benar terasa. Banyak warung kopi Aceh di Ibukota, tapi belum ada rasa kopi yang seperti di beberapa warung kopi terkenal di Aceh. Di warung kopi ini, yang namanya telah saya sebutkan di atas tadi, kopi yang kalau di tempat saya paling mahal harganya 8 ribu rupiah, di sini 30 ribu. Sungguh mahal, begitulah biaya kehidupan yang serba mahal di Ibukota Indonesia ini. Saya memesan sanger pancung, harganya 35 ribu, mahal bukan? Ya, bagi saya mahal.
Di warung kopi Aceh Connection ini, saya tidak sengaja bertemu , salah satu steemian girl dari Komunitas Steemit Indonesia Chapter Banda Aceh. Dia bersama seorang wanita paruh baya, sepertinya itu tante dia. Tante itu cantik, lebih cantik dari
, saya aja terkesima.
Baiklah, sekian aja ketikan saya kali ini.
Pokoknya saya kangen Kopi Aceh yang di Aceh, itu saja!
Sekian, terima kasih jika anda membacanya!