Sore hari yang indah, tapi tak se-Indah Dewi Pertiwi. Kemarin, aku bangun terlalu cepat dari biasanya. Dan gak nyambung!
Hari kamis, pukul 9 pagi, aku berangkat dari rumah menuju Kota Banda Aceh. Dengan modal isi bensin 30 ribu rupiah, ditambah oli campur agar mesin tetap lincah, Vespa ku berjalan dengan aman.
Ban vespa berputar, aku heran, kenapa dia berputar? Depan belakang juga sama, dua-duanya berputar. Padahal aku tak menyuruh mereka mutar-mutar. Ah sudahlah, mungkin mereka tak sanggup lagi melihat kamu bersamanya.
Dari rumah tempat aku tinggal, tepatnya di Desa Lingkok Busu, Kecamatan Mutiara, Pidie, dengan Kota Banda Aceh, berjarak sekitar 120 KM. Kalau kita berangkat menggunakan mobil, hanya menghabiskan waktu 90 menit. Namun karena aku menggunakan vespa tua keluaran Italia, Eropa punya, aku hanya menghabiskan waktu sekitar 60 menit saja. Itu kalau dari Jantho!
Karena mata sedikit mengantuk dan kepala ku juga terangguk-angguk, aku memilih singgah beberapa menit di Horas Coffee Shop Saree, untuk menikmati segelas sanger yang rasanya seperti kopi campur krim. Setelah mata kembali menjadi mata, aku melanjutkan perjalanan ke Kota Banda Aceh sambil sesekali berhenti hanya untuk foto-foto gak penting.
Gambar di atas menunjukkan rambu-rambu lalu lintas, bertuliskan "HATI-HATI, TIKUNGAN BERBAHAYA KE KIRI, 50 METER" Menurut aku, ini tidak terlalu bahaya, namun yang paling bahaya adalah "DITIKUNG TEMAN, DENGAN JARAK 50 METER".
Hati-hati sama teman, karena teman bisa menjadi jodoh! Dan jodoh bisa diambil teman! ðŸ˜
Sekian, jangan lupa minum air setelah makan!
Salam #bratipoh