Hai Steemian...
Perjalanan saya setiap hari ke kantor yang berjarak sekitar 35 km dan memakan waktu sekitar 45 menit selalu saya tempuh dengan angkutan umum. Ini sudah berlangsung selama 15 tahun, hal ini tentu saja memberi saya banyak pengalaman. Setiap pagi saya bertemu teman seperjalanan dengan berbagai macam profesi dan latar belakang. Ada pegawai pemerintah seperti saya, mahasiswa, pegawai bank, pedagang dan lainnya. Yang paling menyenangkan adalah ketika bertemu ibu-ibu buruh tani yang pergi secara berombongan ke wilayah-wilayah yang sedang dalam masa tanam atau masa panen. Mereka adalah ibu-ibu rumah tangga yang kelihatan semangat dalam mencari penghasilan tambahan untuk keluarganya.
Namun banyak juga pengalaman yang kurang menyenangkan seperti bertemu beberapa orang pengemis yang kelihatannya masih sehat dan kuat, atau ada juga yang membawa anaknya yang cacat. Saya sering mendengar mereka berbagi cerita tentang penghasilan yang mereka dapat per hari dan jumlahnya lumayan besar dibandingkan dengan gaji saya per hari. Para pengemis ini selain sebagai teman seperjalanan saya, mereka juga sering berpapasan dengan saya di lampu-lampu merah, di pasar bahkan mereka juga sering mendatangi ruangan-ruangan di kantor-kantor termasuk kantor saya. Cerita-cerita unik tentang mereka telah sering saya tuliskan di status-status facebook saya. Maka kali ini saya ingin bercerita tentang seorang nenek yang perilakunya sangat berbeda dengan para pengemis itu. Beliau seorang yang gigih, sudah lama saya kenal sebagai seorang pedagang kue.
Kami tidak pernah menanyakan namanya, saya pikir mungkin saja namanya sama dengan nama saya, karena nama saya sangat populer di generasi 40an. Di generasi 70an nama seperti nama saya sudah sangat langka, mungkin saya satu-satunya, haahahaa.. Kami sering memanggilnya dengan nama Nenek Ukheu U, sesuai nama kue yang sering dia teriakkan ketika berjualan. Kue Ukheu U terbuat dari tepung beras yang goreng dan dibentuk seperti akar kelapa atau dalam bahasa Aceh disebut ukheu u
Si nenek biasanya muncul di kantor sekitar pukul 11 pagi. Dia mulai berjualan saat menjelang siang dengan alasan bisa menghemat uang makan, karena telah makan di rumah. Namun sesekali dia datang lebih pagi, seperti pagi kemarin, si nenek ikut sarapan bersama di kantin kami. Nenek ini sangat ramah dan senang bercerita, wajah rentanya jarang menampakkan rona yang lelah sangat berbeda dengan wajah-wajah pengemis yang selalu memelas, sebaliknya dia selalu bersemangat menawarkan kue ukheu u, rengginang, ampera dan kerupuk opak pada kami dan kamipun selalu membelinya.
Sekali waktu si nenek bercerita :
“Orang-orang kantor menawarkan bantuan untuk saya, tapi harus buat proposal. Saya tolak, saya tidak paham dan saya malas bawa-bawa map itu. Lalu ada Bapak PNS tanya, nenek perlu apa?, saya pikir-pikir... sepertinya saya perlu ampia, selama ini saya menggiling tepung tidak pakai mesin, kalau pakai mesin kan bisa lebih cepat selesai. Lalu Bapak itu tanya berapa harganya, saya bilang mahal Pak, 300 ribu.. eh.. rupanya Bapak itu langsung buka dompet, dikasihnya saya uang 350 ribu, katanya kalau cuma segitu dia bisa kasih, ndak perlu buat proposal, senang saya Buk.. langsung saya ke pasar untuk beli ampia... saya doakan selalu supaya Bapak PNS itu mudah rezekinya”
Bagi saya, tak selalu perlu piknik yang hebat untuk menyegarkan jiwa dan mengembalikan semangat. Cerita-cerita seperti itu adalah obat bagi segala penat.