Ah, berbicara tentang keindahan dan keunikan Tanah Gayo memang tiada habis-habisnya. Mulai dari alamnya yang aduhai, hingga kopi arabika yang terkenal hingga Amerika. Semuanya ada di Tanah Gayo. Segalanya ada di dataran tinggi yang melampaui awan, sehingga Gayo juga dijuluki Negeri di Atas Awan.
Saya sangat beruntung dapat bekerja dan tinggal di daerah dingin ini, tepatnya di Kabupaten Bener Meriah. Dataran Tinggi Gayo yang berada pada salah satu punggung Bukit Barisan, terdiri dari tiga kabupaten, yaitu Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues. Ketiga daerah ini serumpun dengan bahasa yang hampir persis sama.
Terlebih saya pernah bertugas di Puskesmas Buntul Kemumu pada tahun 2009-2011 silam. Saya tinggal di sana pada sebuah rumah dinas. Wilayah Kecamatan Buntul Kemumu dikenal dengan kawasan paling dingin di Bener Meriah. Saya pernah merasakannya sendiri, pernah saya ukur suhunya mencapai 11 derajat celcius, sangat dingin seperti di Eropa saat Musim Semi.
Waktu pagi atau sore hari sering sekali kita seperti sedang berada dalam awan, sebab kabut tebal turun dari langit yang membawa udara yang sangat dingin, apalagi bila angin berhembus kencang. Sensasi ini saya rasakan selama sekitar 3 tahun saat bertugas sebagai Kepala Puskesmas di sana.
Wilayah Buntul Kemumu ini dulunya sangat terisolir sebelum selesainya pembangunan jalan KKA yang sudah mulus seperti sekarang ini. Akses ke Lhokseumawe sangat mudah, hanya butuh 1,5 jam saja. Sehingga kini, Buntul Kemumu telah menjadi daerah lintasan, dan semakin maju dan berkembang, kini harga tanah pun melambung tinggi.
Kemarin (19/06/2018), kami berangkat ke Lhokseumawe melalui Jalan KKA. Berangkat dari Simpang Tiga Redelong, praktis kami melewati Buntul Kemumu. Tiba di kawasan ini, tentu saja memoar tempo dulu bangkit kembali dalam ingatan saya. Namun, saya bersyukur kini Buntul Kemumu semakin ramai dan menggeliat. Walaupun ada rasa kecewa, kenapa dulu saya tidak membeli sepetak tanah pun di sini, saat harganya masih sangat murah. Ha.. ha.. ha..
Tapi ya sudahlah, saya tetap bahagia karena saya masih dapat merasakan sensasi berada di atas awan, walaupun penebangan liar semakin parah, banyak punggung bukit gundul dirampas pohon-pohonnya dengan dalih membuka lahan.
Saya bersyukur masih dapat merasakan sensasi sejuk, segar, dan menyenangkan di alam Tanah Gayo yang seperti kepingan tanah surga terhampar luas ini. Tapi apakah anak cucu kita masih dapat merasakannya kelak? []
Posted from my blog with SteemPress : http://pulotravels.com/begini-sensasi-berada-di-negeri-di-atas-awan/