Belum ke Bali kalau belum ke Tanah Lot, untuk melihat pura suci umat Hindu, yang bertengger di atas bebatuan karang pantai Beraban, Bali Selatan.
Pura kuno Tanah Lot sangat ramai dikunjungi wisatawan domestik dan luar negeri. Kami pun tidak mau ketinggalan mengunjungi situs bersejarah ini. Berangkat dari penginapan kami di Novotel Nusa Dua, butuh waktu sekitar 40 menit untuk tiba di lokasi wisata Tanah Lot, menjelang siang hari. Cuaca cukup terik, panas khas udara tepi pantai.
Begitu menginjakkan kaki di sana, kami bergegas masuk melalui sebuah gapura berukiran khas Pulau Dewata. Suasana lokasi wisata ini sangat menyenangkan, segalanya tampak tertata rapi, ciamik dan unik.
Tidak sabar kami untuk segera menyaksikan langsung Pura Kuno peninggalan abad XVI ini. Namun, kita harus berjalan kaki beberapa ratus meter baru akan tiba di tepian pantai. Sebelum itu, kita akan melewati Pasar Seni, yang menjual aneka souvenir, pakaian, lukisan dan berbagai pernak-pernik lainnya.
Suasana destinasi wisata ini bersih, rapi, dan teratur. Saya teringat saat mengunjungi kawasan wisata Danau Titisee di Jerman, penataannya sungguh luar biasa, mirip dengan nuansa Tanah Lot ini. Saya pikir, memang harus demikian, karena Pura Tanah Lot, merupakan destinasi paling banyak dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara ketimbang lokasi wisata lainnya, seperti Pura Uluwatu.
Saya menilai penataan obyek wisata paling favorit di Bali ini, mengedepankan nuansa religius, dipadu-padankan dengan panorama alam yang memukau. Kami tidak mau berlama-lama terbuai khayalan, segera saja kami berjalan, melewati jalan agak menurun, menuju Pura Tanah Lot, yang merupakan bagian dari Pura Sad Kahyangan.
Setelah berjalan sekitar 7 menit, kami sampai pada anak tangga, lalu kami menuruninya sampai menapaki bebatuan karang yang rata. Kami berhenti sebentar di atas karang hitam ini, dan mengambil sejumlah foto. Sungguh keren!
Menikmati keindahan lokasi wisata Tanah Lot, tentunya sangat menyenangkan dan rasanya ingin menikmatinya lebih lama lagi. Namun, panas terik matahari serta deru angin hangat yang berhembus dari arah Samudera Hindia ini, membuat kami untuk bergegas meninggalkan keajaiban alam ini.
Melihat berbondongnya wisatawan domestik dan pelancong luar negeri, menambah keyakinan saya bahwa Tanah Laot adalah objek wisata yang paling banyak dikunjungi traveler saat mengunjungi Bali.
Demikianlah sahabat steemian, kisah singkat perjalanan saya ke Tanah Lot Bali. Mudah-mudahan dapat memberikan sejumlah inspirasi. Nantikan kisah PuloTravels lainnya di Pulau Dewata.