Tak lama setelah secangkir kopi Bangi saya seruput, panggilan boarding ke dalam pesawat Citilink dengan nomor penerbangan menuju Medan menggema di terminal keberangkatan Bandara Husein Sastranegara, Bandung.
Penerbangan berjalan cukup mulus, walaupun ada sejumlah goncangan akibat cuaca yang kurang bersahabat. Setelah mengangkasa selama 2,5 jam, akhirnya kami mendarat dengan mulus di Kualanamu, bandara internasional kebanggaan masyarakat Sumatera Utara ini.
Tak berlama-lama di sana, kami segera menaiki taksi menuju kota Medan. Setelah menyimpan barang-barang bawaan di rumah , saya,
dan
menuju Centre Point Mall untuk menonton film terbaru Black Phanter. Sebuah film seru yang suspendnya dari awal sampai akhir.
Film usai, kami pun beranjak menaiki grab menuju Medan Fair Mall. Nah, di sinilah kami menikmati kopi di The Coffee Crowd sebelum meninggalkan kota Medan menaiki bus Putra Pelangi menuju Bireuen.
The Coffee Crowd adalah salah satu kedai kopi premium di Medan Fair. Lokasinya terletak di pojok kanan, sebelum KFC. Cukup strategis dan mudah dijangkau.
Uniknya, kedai kopi ini tidak hanya menyediakan kopi, tetapi berbagai jenis makanan dan minuman, mulai dari yang tradisional, asia, western hingga berbagai jenis makanan ringan lainnya. Sehingga menurut saya tidak layak disebut kedai kopi, tetapi restoran. Barangkali investor kuliner moderen ini, menabalkan embel-embel kopi, supaya tokonya laris karena minum kopi sambil diskusi telah menjadi budaya terkini masyarakat Indonesia.
Kami menempati sebuah meja, yang posisinya bersebelahan dengan koridor, open air, sehingga dua steemian sahabat saya bebas mengepulkan asap rokok. Sebab rokok dan kopi pasangan sejati.
Dan steemian sejati, selalu buka laptop bila sedang ngopi. Menyiapkan postingan, membalas komentar, claim reward, dan berbagai aktivitas lain yang terkait, termasuk (barangkali) memeriksa saldo di vip.bitcoin.