Lima tahun menjadi penyiar radio rasanya cukup untuk mengenal dan menikmati ragam musik, mulai dari genre hingga musik dalam dan luar negeri yang saban waktu bertugas saya dengar dan saya suguhkan kepada pendengar setia. Saya tipe penikmat musik “umum” karena memang tidak ada genre khusus yang menjadi pilihan. Asalkan itu enak untuk didengar, ya saya nikmati saja meski kadang mendapat cibiran “ndeso” oleh teman-teman yang suka pada satu genre khusus. Ah, mereka sok gaul dech.
Saat orang-orang terhipnotis pada lagu Band Padi medio 2000-an, saya lebih memilih mendengar suara merdunya Alm. Mukhlis dengan Nyawong sebagai band etnik yang menyuarakan kebebasan dan perjuangan hingga album mereka sempat dicekal oleh pemerintah yang berkuasa kala itu.
Saya begitu menyukai lagu-lagu Aceh dan akan terus mengabaikan pendapat orang lain tentang selera musik saya tersebut.
Kebetulan, salah satu Steemian dari KSI Chapter Banda Aceh, baru saja me-launching album mereka disalah satu Cafe dikawasan Banda Aceh.
RIALDONI, begitu nama panggungnya, dua sosok seniman muda itu sukses meluncurkan album berjudul Dara Gampong yang berisi 10 single dan telah menyelesaikan proses pembuatan video klip garapan tangan kreatif dan kawan-kawan untuk kesemua lagu mereka.
Malam Earth Hour di Hermes Palace Hotel Banda Aceh bulan lalu adalah pertama kalinya saya mendengar langsung karya RIALDONI yang berjudul Dara Gampong yang dinyanyikannya pada acara tersebut dan saya pun kepincut dengan suara khas dan keberanian dalam menonjolkan sisi kedaerahan dalam lirik-lirik lagunya.
Dari kesepuluh lagu yang ada, saya terpikat betul dengan satu lagu yang berjudul “Hana Meujudoe”. Entah apa yang melatarbelakangi cs menciptakan lagu tersebut, semoga itu bukan berasal dari pengalaman Rial atau Doni. Hehe
Ada nilai pengorbanan yang tersirat dari bait lagu yang jika mungkin itu kita alami di dunia nyata akan terasa sangat memilukan. Ah, kok saya jadi terbawa suasana ya? Padahal kan itu cuma lagu. Iya, lagu yang akan membuat pendengarnya seakan kembali ke masa lalu yang penuh haru biru, apalagi mereka yang pernah merasakan hal serupa seperti yang dituangkan RIALDONI dalam tembang tersebut. Sungguh akan menguras air mata sekaligus mengungkit luka lama. Huuuuuuuhhh
Bukan hanya pengorbanan yang tersirat dalam lagu tersebut, juga tentang bagaimana masyarakat Aceh begitu menghormati nilai-nilai Islam yang selalu diterapkan dalam kehidupan kita. Sekelumit apapun dinamika yang terjadi, sesakit apapun kenyataan yang harus diterima, hukum dan segala ketentuan agama haruslah ditegakkan dan dijalani dalam setiap dimensi kehidupan.
Dan pada akhirnya, cinta terkadang tak harus memiliki. Kami tunggu penampilan duet dengan
. Mari kita dukung karya-karya terbaik aneuk nanggroe.
Saleum