Empat belas tahun yang lalu, pagi itu saya dan keluarga seperti akhir pekan biasanya, berpacu dengan waktu menyelesaikan pesanan untuk toko - toko di seputaran Banda Aceh. Pagi itu puluhan batang Brownies dan ratusan Donat telah hampir seluruhnya dikemas.
Tak disangka gempa akhirnya membersihkan seluruh area dapur hingga hanya lantai yang tersisa. Kami mengungsi karena tempat tinggal kami sudah tak layak huni kala itu. Semua rasa itu masih seperti baru kemarin.
Masjid saat Tsunami karya Alicia
Kini ada masyarakat nun jauh disana merasakan apa yang pernah kami rasakan. Tsunami Selat Sunda menjadi topik berita dimana - mana. Puing - puing bangunan berserakan, pengungsian, korban luka - luka, bahkan korban jiwa.
Rasa kehilangan saat ini mewarnai hari - hari masyarakat disana. Meski Tsunami Aceh empat belas tahun lalu lebih luas dampaknya dari pada Tsunami Selat Sunda tapi tetap saja, inilah bencana yang kini sedang kita hadapi bersama.
Indonesia telah berulang kali mengalami bencana yang sama. Saya yakin dan percaya semangat kita tak akan pernah padam. Hari terus berlanjut, mari kita segera bangkit untuk berbenah dan menatap masa depan yang lebih baik. Tetaplah berprasangka baik pada Tuhan sambil menjaga alam untuk kelangsungan hidup kita dimasa yang akan datang.
Semoga apa yang pernah kita alami dapat diteruskan menjadi pembelajaran bagi generasi penerus, sehingga kearifan lokal dapat terbentuk seperti masyarakat Simelue yang menaklukkan Tsunami dari proses pembelajaran yang didapat dari alam.