Generasi muda adalah pilar bangsa, dan keluarga merupakan pendidikan pertama bagi anak. Kata orang sih begitu, kurang paham juga benar atau hanya isu.
By the way motto di atas sudah sering kita dengar dan kita praktekkan, terlepas dari fakta bahwa moral anak bangsa mengalami penurunan kualitas, entah itu perubahan karena zamannya memang sudah modern sehingga penurunan ini dianggap kemajuan, atau karena faktor lemahnya kontrol orangtua, wallahua'lam.
Bingung kah? Saya juga, oke..ada satu fenomena yang menjadi perhatian saya saat ini. Mungkin orang menyebutnya kemajuan modern, tapi jarangnya ayam berkokok pada waktu subuh menandakan memang sudah jarang sekali orang memelihara ayam (di kota), orang dengan tingkat ekonomi menengah ke atas lebih memilih membeli daging ayam ketimbang memeliharanya.
Begitu juga dengan fenomena langkanya suara anak kecil mengaji habis magrib di rumah-rumah. Dulu, anak-anak tidak ada yang keluar rumah sebelum belajar mengaji bersama orangtuanya sehabis shalat magrib, kemudian dilanjutkan dengan membuat PR sekolah. Tapi sekarang suara-suara itu sudah jarang terdengar, malahan suara sinetron lebih mendominasi.
Katakanlah sekarang sudah banyak pesantren di kampung, anak-anak semua belajar mengaji di pesantren, bagus sih guys, tidak diragukan lagi, tapi sebagai orangtua kita harus tau bahwa kehadiran pesantren tidak menggugurkan kewajiban orangtua sebagai guru pertamanya.
Dalam hal ini, mengingat di pesantren ada 30 anak dalam satu kelas, dengan waktu belajar 1 - 2 jam, maka sulit rasanya berharap hasil maksimal tanpa keterlibatan orangtua itu sendiri. Maka dari itu jangan salahkan pesantren yang menangani puluhan anak sedangkan orangtua sendiri bahkan tak berdaya mendidik satu anak.
Tanpa bermaksud melarang, kehadiran pesantren jangan dianggap semua beban bisa dilimpahkan begitu saja, biar bagaimanapun, keluarga sebagai guru pertama bagi si anak tetap masih berlaku. Alangkah lebih sempurnanya lagi pendidikan dari orangtua itu kembali di poles di pesantren, bukan dengan melepaskan anak begitu saja seakan-akan pesantren ini tempat para pesulap yang sanggup merubah batu menjadi permata, sama sekali tidak demikian.
Kebanyakan orangtua mempunyai persepsi bahwa "Kalau saya harus mengajar, terus mereka kerja apa", ini persepsi yang salah, secara di pesantren fokusnya tidak hanya 1 anak dan satu ilmu saja, melainkan ratusan anak dengan berbagai macam ilmu yang diajarkan, mau belajar ke sekolah/pesantren manapun tetap sang guru menyuruh siswanya untuk "belajar lagi di rumah".
Kesalahan pola asuh dalam keluarga berakibat sulitnya penanganan di saat sang anak beranjak dewasa. Temanku pernah memberikan analoginya terkait dengan masalah ini, menurutnya ada 3 jenis "aneuk" (anak) yang kita hadapi akhir zaman :
Pertama Aneuk Batee (Anak Batu), yaitu anak yang sifatnya memakan induknya sendiri, seperti batu gilingan bumbu masak, saking seringnya batu ini bergesekan membuat induknya habis dan aus, anak tipe ini cenderung melawan ketimbang mematuhi.
Kedua Aneuk Budee (Anak senjata/peluru), tipe ini adalah anak yang tidak mendapatkan bimbingan sama sekali, alias asal lepas dari induknya, selesai sudah urusan. Soal mendarat dimana itu tidak penting, induknya melepas semua tanggungjawab seiring anaknya brojol keluar.
Ketiga Aneuk Rinyeun (Anak Tangga), inilah anak yang menjadi idaman setiap keluarga, seberapa banyak pun jumlah anaknya, seberapa besar dan tinggi pun ia, tetap saja dibimbing dan diarahkan oleh railing (pegangan) di kiri dan kanan tangga, alias tidak dilepas begitu saja. Dan itulah fungsi orangtua, walapun pada saat itu pemasangan tangga dilakukan oleh tukang, tetap saja tidak lepas kontrol dan tanggungjawabnya.
Posted from my blog with : https://rizal-sahabat.000webhostapp.com/2018/08/anakmu-bukan-anakmu