Perjalanan menuju pelaminan bukanlah perkara mudah, karenanya banyak sekali pemuda yang menunda menikah hanya karena ini ingin mempersiapkan finansial terlebih dahulu, bekerja keras demi mencapai kehidupan yang mapan, berharap dengan kemapanan akan mengundang cinta yang berkualitas, jelas tidak mudah, dan ini tidak salah.
Bagi sebahagian yang lain mereka akan menganggap melangkah ke pelaminan itu bukan hal yang sulit, tinggal memutuskan saja apakah bersedia atau tidak. Orang seperti ini akan berfikir "Menunggu mapan untuk melangkah bukanlah ide yang bagus," ada banyak orang di luar sana yang terjebak dalam cita-cita yan tak kunjung terwujud, akhirnya kaya tidak, alim kagak, pandai bukan, umur bertambah, kawin telat.
Lantas, gampang atau sulit?
Tak Perlu begitu takut sampai harus benar-benar sukses dulu baru melangkah, juga jangan terlalu berani sampai tidak ada beban sama sekali, artinya jadikan rasa takut itu sebagai motivasi dalam berusaha dan rubahlah keberanian sebagai sarana menghadapi tantangan.
Semua orang berharap memperoleh kehidupan yang mapan, bahkan mengimpikan hidup kaya. Sama halnya seperti pembahasan sebelumnya yaitu "tunggu kaya" dulu baru menikah, dengan kata lain pernikahan akan terus tertunda sebelum cita-cita menjadi kaya terwujud.
Namun resiko yang akan kita hadapi adalah kekayaan di masa single (lajang) itu berpotensi besar menjebak diri sendiri, maksudnya ketika kita merasa kaya, selera makan dan selera-selera lainnya ikut melonjak naik, mobil mewah, makan makanan mahal, pakaian mahal, teman nongkrong pun dari kalangan "darah kaya", sampai pacaran pun kita tidak mau lagi dengan cewek-cewek sembarangan seperti dulu waktu masih miskin, nona nona muda nan glamor menjadi incaran kita.
Incaran juga Pengincar
Demikian halnya dengan sang incaran, mereka juga mengincar kita bukan? Siapa juga yang tidak mau punya cowok kaya.!!!, pakek jas, mobil mewah, dompet tebal, mereka pasti mau. Dengan gayanya masing-masing mereka akan datang dan menawarkan cinta kepada kita, karena mereka butuh kenyamanan hidup yang akan kita berikan seandainya kita jadian, mereka ingin menikmati kenyamanan itu, kekayaan itu, uang itu yang sialnya itu adalah uang kita.
Namun sekarang mari kita bandingkan, atau minimal kita bisa prediksikan, berapa persenkah kemungkinan kemurnian cinta yang hadir di saat kita miskin dan yang hadir ketika sudah kaya?
Saya yakin dan percaya bahwa semua orang siap lahir batin jika pasangannya tiba-tiba kaya raya, namun tidak semua orang siap lahir batin dengan kenyataan pasangannya jatuh miskin, so jika miskin saja kita diterima, apalagi kalau kaya. Tentu tidak akan berlaku kebalikannya (kaya saja diterima, apalagi miskin).
Nah sekarang.!!!, .silahkan putuskan sendiri apakah kita mau mencari pasangan menunggu datangnya kaya?, atau kapan saja tidak masalah sekalipun masih miskin?. Idaman belum tentu aman kawan.!!!