Terompet politik kembali ditiup kawan, awan pencitraan kembali membubung tinggi menyelimuti tubuh-tubuh jelata. Saatnya kita duduk diam manis sambil mendengar aneka ragam asumsi dan persepsi dari berbagai kalangan. Ada yang dulunya anti seanti antinya tapi sekarang diam sediam diamnya. Ada pula yang dulunya melawan sekarang mendukung mati-matian. Tak sunyi juga tubuh yang kemarin sore menyatakan sikap tidak setuju dan hari ini semakin tidak setuju. Menang politik ini ibarat permen Nano-nano kawan, ramai benar rasanya.
Ayolah kawan, mari sama-sama sedikit merasakan kepahitan. Maksudku rasa pahit dari kenihilan keuntungan dari tetes keringat yang kita keluarkan demi hal paling bullshit sedunia. Aku tidak melarang terlibat dalam masalah politik. Justru politik itu bagus untuk media belajar, tetapi please jika memang bergabung, janganlah jadi korban pada jenis tipuan yang sama. Mungkin aku juga akan masuk lagi kedunia itu, tapi aku berjanji tidak akan masuk dengan kepalaku lagi, lantaran konsekuensinya selain kepala kita benjol, orang-orang pun akan tahu kepala siapa yang benjol kawan.
Maka dari itu, setelah beberapa kali belajar dari pengalaman, jika aku masuk, maka pantatku duluan yang akan kudorong. Tahu kenapa? Karena resikonya hanya pantat saja yang memar tanpa ada orang yang tahu itu pantat siapa.Boleh boleh saja terlibat, asal keterlibatan kita tidak bersumber dari asumsi orang lain untuk memuja tokoh A seraya mencela tokoh B. Mengingat seperti pada paragraf pertama tadi, bahwa ada jutaan orang yang dulu menghina dan sekarang diam, atau bahkan mungkin mulai mendukung. Begitu pula sebaliknya dari mendukung menjadi penyebar cercaan dan hinaan dimasa kini.
source
Bukankah sebuah kekecewaan, ketika kita membenci B karena mendengarkan asumsi orang yang tidak jelas alasannya, dan tiba-tiba dengan mata kepala kita sendiri kita saksikan bahwa kebencian itu salah alamat.Kita lihat saja nanti, bagaimana tokoh yang terlalu sering kena bully, beberapa menit kemudian akan dipuja hanya karena sang panutan sekarang berada disisi orang yang dulu dibenci. Membingungkan sekali pemirsa. Oleh sebab itu, rujukan hukum agama dari politisi atau siapapun yang terlibat didalamnya patut kita ragukan. Aku tidak bilang stop percaya, tapi tolong dikaji kembali karena bisa jadi lidahnya berbalut kepentingan dan bukan kebenaran.
Posted from my blog with : https://rizal-sahabat.000webhostapp.com/2018/08/politik-jangan-mau-berburuk-sangka-hanya-karena-gosip