Catatan : Sadra Munawar
Harumnya aroma kopi Gayo membuat anak muda yang sekarang masih terdaftar sebagai mahasiswa ahir jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh yang saya memanggilnya Bang Irwan nama lengkapnya Muhammad Irwan datang menikmati kopi Gayo.
Meski tujuan utamanya tidak hanya menikmati kopi Gayo dan alam Gayo yang dingin, udara segar dan sayur mayur memeluk lidah tanpa syarat akan tetapi ketika mencium aroma kopi rasanya pengen lagi dan lagi baginya.
Sekitar pukul 10 : 45 WIB. Kami memulai perjalanan dari negri petro dollar kota Lhokseumawe yang di atasnya saya sejak 2015 lalu bertemu dengan dunia baru, kawan dan sahabat baru di alam akademik, yang semua orang menyebut itu adalah jenjang perkuliahan.
Sepeda motor melaju dengan kecepatan rata-rata, apalagi di pertengahan jalan lintas Lhokseumawe - Bener Meriah (KKA) tidak bisa lebih dari kecepatan di atas 20 KM/Jam dikarenakan tanjakan yang dengan wajah kusam sepeda motor Beat-nya bang Irwan seolah berkata "Pelan-pelan saja, saya sudah tidak cukup kuat".
Sesekali saya mengatakan kepada bang Irwan "Kita janjinya dengan Bang Salman Pukul 14:00 di Bayakmi Caffe ya bang" meski kami tidak membiarkan perjalanan kami tanpa diskusi di atas kendaraan, tapi mesti saya ingatkan dirinya untuk menambah kecepatan lari sepeda motornya saat jalannya ada yang memungkinkan.
Hal yang mengejutkan bagi saya ketika melihat puluhan warga Kabupaten Bener Meriah yang sudah mendirikan Tugu Batas Wilayah, saya terkejut karena salah satu dari mereka meneriaki nama saya dengan keras dan lantang.
"Sadra, Sadra, Singah Mulo (Sadra, Sadra, Mampir dulu- Gayo-red) "Ucap salah satu diantara mereka yang ternyata kawan saya menikmati Kopi di Pinggir Pantai Ujong Blang Lhokseumawe dia adalah kanda Putra mandala ketua RAPI BM kemudian saya singgah sebentar dan menyelami beberapa Kawan-kawan awak media dan warga yang sudah berkumpul di sana.
Tidak lama disana kemudian kami beranjak pamit karena siraman kesejukan alam yang sudah menetes pelan bukti keridhoan ilahi tujuan mulia dari Bang Muhammad irwan untuk menulis sepuluh Tokoh pegiat Literasi dari Aceh, bermula dari sosok yang dikenal melalui karya seninya, dikenal dari prestasi di bidang menulis dan berpuisinya membuatnya keridhoan Alam bak selangakh dan seirama dengan kami.
Sekitar 5 KM kami melewati tapal batas yang baru saja di dirikan, rintik pembawa berkah sudah semakin deras , maka dengan suka cita kami mengeluarkan jurus pertahanan ketika hujan datang, dari bagasi sepeda motornya Bang Irwan.
Dilindungi mantel berwarna biru, diskusi kami agak terhenti sejenak karenakan suara berisik mantel yang berkibar membuat pendengaran harus terfokus dengan suara yang membuat diri tidak nyaman.
Lewat beberapa menit dari jadwal yang sudah di tentukan dengan Bang Salman, ahirnya kami bertemu dengannya di Bayakmi Caffe, nama owner Bayakmi caffe ini, hingga kini masih Kanda Maharadi, siapa coba yang tidak mengenal dirinya melalui aksi heroiknya memberikan kartu merah kepada DPRK Aceh Tengah, dan saya juga tidak tahu menahu kapan dia mengahiri masa lajangnya. Hehe
Hujan adalah alasan yang pertama saya sampaikan ke Bang Salman dalam hal mengapa kami bisa tidak sesuai jadwal yang di janjikan, Berbeda dari dirinya yang 30 menit sebelum jadwal sudah menghubungi saya Via WhatsApp bahwa dia sudah di tempat, kemudian saya dengan bang Irwan gantian membawa sepeda motor, tidak lupa melepas mantel biru kesayangan nya.
Waktu tidak terasa dua kali saya dan bang Salman pesan kopi , dua kali juga membasahi wajah dengan air Whudu, hingga pukul 19:20 WIB, kami beranjak dari caffe Bayakmi untuk segera ke kediaman bang Salman Yoga.
Serunya diskusi dengan Tokoh Budaya dan Owner Bayakmi Caffe sangat saya rasakan, begitu juga ketika memperhatikan Bang Irwan berdiskusi dengan Bang Salman, hingga malamnya kami menikmati benar keakraban yang di tampakan seniman ini kepada kami sebagai tamunya, menikmati sepiring nasi dan secangkir kopi di rumahnya, hingga pukul 02:00 malam kami mendiskusikan kegiatan dan karyanya yang mengantarkannya menjadi Budayawan Nasional.