"Jika kamu tidak dapat berpikir, maka buka pintu rumahmu dan pergilah jalan-jalan, lihat kekayaan tuhan" { Mahyudin }
Mendengar kabar gembira yang agak mendadak dari sahabat perjuangan di kepengurusan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) komisariat Fakultas Ilmu dan Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh, aku sering panggil beliau ini dengan Pak Robbi, begitulah aku panggil beliau harap kamu jangan komplin, karena itu sudah menjadi fitrah diriku.
Meski ada kegiatan pemilihan pengurus Sekolah Pemimpin Muda Aceh (SPMA) wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah di Caffe Pahlawan pagi hingga siang tadi, aku pastikan akan menyambut dengan dingin hati bagai air danau Lot Tawar yang menghidupi Ikan Endemik di dalamnya (Depik).
"Pak saya sudah di Bale Bener Meriah ini" Katanya melalui telpon dari seberang
Menurut aku dia terlalu cepat sampek, karena hanya satu jam setengah dia melapor kepada aku, walau tak sama melapornya tamu presiden ke stafnya, dia gerak dari petro dollar, katanya dia mau makan durian ke Digul.
"Oke pak, jalan aja ke Takengon, disini aja kita", Jawab ku.
"Nanti aku telpon kalau sudah sampek disana" Melanjutkan ucapannya, dan aku dengar ada suara desiran angin, aku tebak dia lagi melajukan kendaraannya dengan pelan atau tabak lagi ada di pinggir jalan.
Setelah sholat dzuhur di area caffe pahlawan tadi, kemudian kami pastikan segera beranjak mengisi ruang tengah yang sejak tadi, pasukan cacing dan kerabatnya sudah demo layaknya gerakan mahasiswa yang menjadi sejarah hingga kini, gerakan 1998 kita sama-sama sebut.
Setelah memenuhi permintaan perut di salah satu rumah makan, depan Bank Ripublik Indonesia (BRI) Belang Kolak I, Handphone kebanggan ku bunyi kembali.
"Ke Masjid Raya saja ya pak, Biar bisa sholat dulu", Aku sarankan ke pak Robi, karena aku yaki dia belum memenuhi kewajibannya kepada yang menciptakan aku, kamu dan dia. selain itu masjid ini juga salah satu pilihan wisatawan luar, karena katanya adem, ayem dan indah pastinya.
Meski aku makan di rumah makan, aku juga bayar, karena aku yakin yang membuat masakan Masam Jing itu pasti butuh modal.
Perjalan memang tidak lengkap sekali karena sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi, ahirnya aku pinjam smartphone pak robi saat ketemu di depan masjid dan.
"Halo" Suara dari seberang
Bersambung......