Hari ini adalah hari ketiga pada kepulangan kedua saya ke Aceh. Agenda sebelumnya pada hari ini adalah mempromosikan steemit pada beberapa teman dari Universitas Almuslim, Matang Glumpang Dua, Bireuen. Namun, karena satu dan lain hal acara tersebut batal dan mungkin bergeser ke esok hari.
Agar jadwal hari ini tak kosong, maka saya pun menjumpai seorang junior di kampus yang sedang bersusah payah mengentaskan studinya. Beberapa waktu lalu dia sidang akhir dan sekarang adalah masa revisi. Saat saya masih di Siantar, beberapa kali dia menelpon dan meminta bantuan agar mengajarkan ilmu skripsi untuknya. Bagi saya, menolak berbagi ilmu adalah serendah-rendahnya perbuatan. Maka dari itu saya pun menjumpainya tadi seusai shalat jumat.
Kami bertemu di salah satu warkop yang berada dekat dengan Simpang Len, Lhokseumawe yaitu "The Brother Coffe". Jangan tanya pada saya kenapa nama warkopnya demikian rupa karena saya tak tahu menahu tentang hal tersebut wkwk.
Ini adalah junior paling unik di jurusan saya. Tapi, demi menjaga kode etik jurnalistik dan kode respek di Steemit saya tak menyebut namanya. Seperti bahasa koran, sebut saja namanya bunga haha.
Bunga ini adalah junior perempuan paling unik di jurusan saya, Antropologi. Dia selalu ceria meski berbagai hantaman masalah menerpa. Pernah suatu waktu kunci motornya hilang di kampus. Setelah melakukan pencarian yang hampir tiga jam, akhirnya dia menemukan kunci tersebut tepat di kantong roknya. Dia tertawa seperti biasa. Teman-teman yang mencarinya mungkin sedikit kesal dan ingin menelannya.. -_-"
Banyak hal unik tapi lucu yang bisa kita temukan pada sosok adik perempuan seperti dirinya. Bagi saya, dia adalah lakon pantomim yang bisa bikin lucu tanpa batas. Kadang-kadang lucunya tak disengaja. Dia seringkali bingung saat kami tertawa dan terhibur karena tingkahnya. Kalau sudah begitu, biasanya dia pura-pura amnesia. Tapi ya begitulah. Tingkahnya yang unik lagi menggemaskan itu membuat senior suka bergurau dengannya.
Tapi hidup memang sering berubah haluan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dulu dia memiliki banyak teman dan senior yang dekat dengannya. Tapi sial, saat ia sedang berusaha mengentaskan studinya, mendadak semua orang yang dekat dengannya hilang menjauh. Persis seperti teman yang tak membalas chat Whatsapp saat ditagih hutang.
Karena dia belum sidang pada waktu yang seharusnya, saya pun bertanya tentang itu, tentang kenapa dia belum sidang padahal teman seangkatannya sudah pada sarjana. Karena saya desak, dia pun buka mulut. Dia bercerita bahwa mengalami sedikit kesulitan saat menggarap skripsi. Karena saya sedang tak ada kesibukan, akhirnya saya mencoba mengajarkan ilmu skripsi padanya. Meski saya akui kalau ilmu saya tentang beberapa teori besar antropologi masih level tempe goreng yang gosong.
Setelah beberapa bulan mendampinginya menulis skripsi, akhirnya bulan lalu dia sidang dan selangkah lagi yudisium. Selamat buat kamu, dik. Tetap kuat dalam menyelesaikan perjalanan di kampus yang hanya tersisa selangkah lagi. Tetap ajarkan kebaikan untuk teman-teman meski mereka barangkali pernah meninggalkanmu dalam tumpukan masalah. Tapi, membalas keburukan dengan keburukan adalah seburuk-buruk perbuatan.
Kami duduk di "The Brother Coffe" dari pukul 15.00 hingga pukul 17.00 WIB. Masih ada waktu beberapa menit, dan itulah yang saya gunakan untuk membagi ilmu tentang Steemit padanya. Dengan dua gelas kosong di atas meja, saya mulai memperkenalkan Steemit padanya, "Masih sering stalking mantan?" Saya membuka pembicaraan.
"Memang saya punya?" Dengan polos dia menjawab. Saya lupa, rupanya adik saya yang satu ini memang tak terlalu suka pacaran. Baginya, pacaran itu hanya ada setelah ijab kabul. Sebagai informasi, prinsip inilah yang membuat saya kagum pada junior yang memiliki tinggi tak lebih dari 150 cm ini.
Setelah tertawa yang tak tak terlalu panjang, dia kembali bertanya, "Kenapa tanya begitu, Bang?"
Sambil bercanda saya jawab, "Kirain masih sering stalking mantan. Sekarang gak model lagi buang-buang waktu dengan perbuatan unfaedah (baca: tak berfaedah) seperti itu. Sekarang modelnya berkreasi di media sosial yang mampu membuat kita produktif dan kreatif."
Dengan mata setengah melotot dia bertanya lagi, "Memangnya ada media sosial yang berfaedah seperti yang abang bilang itu?"
Tanpa basa-basi saya langsung menjawab, "Tentu ada.. Sekarang zamannya netizen kreatif di Steemit. Belum pernah dengar Steemit kan?"
Tanpa menunggu jawabannya, saya langsung menjelaskan tentang Steemit padanya. Tak kurang tak lebih, sekitar 20 menitan.
Setelah mendengar tentang Steemit dia pun menjawab, "Tolong daftarkan dedek gemesh ini ya, Bang haha". Itulah sifatnya, selalu menggemaskan saat melucu. Sepersekian detik selanjutnya saya langsung mendaftarkannya di Steemit. Semoga passwordnya segera dikirim malam ini agar dia bisa bergabung di Steemit. Karena Steemit butuu orang-orang lucu dan kreatif sepertinya agar warga Steemit tak terlalu panik saat harga Steem dan SBD turun seperti saat ini. Selamat atas sidang kemarin, dik. Kami tunggu di Steemit.
Semoga cerita ini menginspirasi, terutama tentang kebaikan berbagi ilmu untuk orang-orang yang kita kenal. Bahkan jika ada orang asing yang menanyakan tentang suatu ilmu pada kita, kita tetap wajib berbagi ilmu tersebut padanya. Saya kira semua teman-teman di Steemit setuju dengan itu. Salam literasi, salam Steemit.
Regards