Hari kedua pulang ke Aceh akhirnya saya bertemu dengan teman-teman ISF (Indonesia Steemian Family). ISF adalah grup kecil-kecilan di Whatsapp yang unik dan memberikan banyak benefit bagi saya, terutama dalam bermain-main di rimba seluas Steemit.
Sepulang dari kampus mengurus berkas-berkas beasiswa, saya membuka chat di grup ISF yang berbunyi ajakan untuk kopi bareng sambil bincang-bincang Steemit dengan teman-teman ISF. Ajakan disahuti dengan positif oleh , dia adalah salah satu anggota grup ISF dan juga pemilik Warung Kopi Cekgu, yang terletak di Keudee Aceh, Lhokseumawe. Rencananya kami memang meet up di warkopnya.
Sepersekian menit kemudian, ajakan juga disambut positif oleh . Ini adalah orang paling berpengaruh di grup ini. Dialah pencetus grup ISF. Dia juga orang yang sudah berbaik hati menegur saya saat dulu masih alay di Steemit. Ya alay.. Saya pernah alay di Steemit. Membuat konten Indonesia tapi tarok tag Indonesia paling ujung. Itu adalah contoh alay di Steemit.
Sepuluh menit kemudian, dan
juga memberikan kabar positif, meski akhirnya mereka berdua tak hadir karena mendadak berhalangan saat perjalanan.
Kabarnya dijegat oleh fans di daerah Cunda. Adapun
juga urung hadir karena satu dan lain hal. Maka jadilah beberapa orang yang hadir pada meet up ini. Saya,
,
dan
. Saat bincang-bincang memasuki tahap akhir, barulah datang
.
Saat saya tiba di lokasi, teman-teman sudah berada di sana. Sambil menjinjing tas ransel mini, saya pun duduk pas di tengah-tengah dan
. Itu adalah pertama kali saya bertemu dengan dua orang keren ini. Setelah salaman, saya langsung disambut pertanyaan oleh
, "Sam ikut acara meet up di Bandung nanti?"
Saya yang masih "jetlag" setelah melewati perjalanan yang panjang dengan motor langsung menjawab sekenanya. "Ya, kalau SBD naik sebelum acara haha". Saat ini suasana di Steemit memang agak lesu karena harga Steem dan SBD turun.
Badai turunnya harga kedua mata uang Steemit itu bahkan sudah membuat beberapa pengguna Steemit yang bermental tempe urung membuat postingan. Tapi tidak dengan teman-teman di ISF. Karya-karya baru terus diciptakan, baik itu tulisan, fotografi maupun video visual.
Teman-teman ISF layaknya pohon-pohon kuat yang tersisa setelah Badai Katrina yang hebat. Sekuat apapun badai, mereka, teman-teman ISF tersebut terus berkarya dan memperdalam ilmu Steemit. misalnya, guru olahraga yang menolak tua ini tetap membawa gitar kemanapun pergi. Begitu mood sedang baik dan angin mulai bertiup sepoi-sepoi, dia langsung bermain gitar dan membuat postingan di openmic.
Pun begitu dengan . Lelaki kalem pengagum IT ini tetap konsisten mengikuti mata angin Cryptocurrency, meski akhir-akhir ini dunia Crypto sedang lesu.
Bincang-bincang Steemit makin seru saat mulai mengatur barisan kami. Dengan tegas dia katakan, "kalian harus segera temukan bakat di Steemit dan kemudian totalitaslah di sana. Maka sukses hanya masalah waktu yang tak akan menghianati.
Setelah itu, dengan sigap mengulik sedikit tentang badai yang sedang menghantam mata uang virtual. Setelah menikmati segelas Cappucino dingin, ia mulai menganalisis, "Turunnya harga SBD dan Steem bukan tanpa alasan. Hal ini tentu saja bukan karena film Dilan sudah diputar di bioskop beberapa hari lalu, tapi badai tersebut terjadi karena beberapa negara di dunia telah melarang transaksi dengan mata uang virtual yang kemudian membuat para investor di Steemit menarik semua uangnya yang mengakibatkan goyangnya dunia crypto."
Diskusi makin alot setelah ikut mengeluarkan ide, "meski demikian, kita tetap fokus pada bakat masing-masing dan terus berkarya. Perkara goncangan di dunia crypto biarkan menjadi badai yang pasti berlalu". Begitulah konsep diskusi yang selama ini ada di grup ISF. Pertama kasus dilemparkan, setelah itu dianalisis dan barulah kemudian dicarikan jalan keluar.
Kalau boleh jujur, di acara meet up tadi saya adalah anggota paling pasif dan kalem. Kenapa? Ya, karena "jetlag" tadi pas naik motor di tengah terik matahari. Jetlag gara-gara naik motor? Emang ada? Ada. Saya buktinya haha.
Bukan, saya kalem karena ingin banyak belajar dari mereka. Karena menurut saya, menyimak dengan seksama adalah cara belajar paling ampuh dibandingkan terus mengoceh tanpa arah yang jelas dan maksud yang lugas.
Begitulah bincang-bincang Steemit hari ini dengan teman-teman ISF. Sebenarnya cerita tersebut agak panjang dan mungkin lebih bernas. Tapi ya itu, uraiannya lebih pendek karena saya pun sedang kurang sehat badan. Bahkan semalam tak ada postingan terbaru di blog saya.
Semoga postingan ini bermanfaat dan menjadi bacaan yang renyah untuk teman-teman Steemit semua. Salam kompak untuk seluruh Komunitas Steemit Indonesia dari ISF. Salam literasi, salam kreatif.
Regards