
"Kenapa hanya Oezil yang disebut pemain Jerman - Turki padahal di tubuh timnas Jerman ada pemain Jerman - Polandia seperti Miroslav Klose dan Lukas Podolski? Kenapa media Jerman hanya melihat Oezil dan menutup mata untuk pemain lain?"
Sepakbola dunia kembali diguncang isu rasialisme. Kali ini menghantam pemain ganteng bernama Mesut Oezil. Akibatnya pemain Arsenal tersebut memutuskan pensiun dini dari timnas Jerman. Barangkali Oezil sudah tak sanggup menghadapi serangan rasial tersebut sehingga merajuk dan akhirnya gantung sepatu.
Awal mulanya adalah aksi selfie bareng beberapa pemain timnas Jerman keturunan Turki dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Saat itu Oezil tak sendirian. Ia juga ditemani oleh pemain Manchester City, Ikay Guendogan. Keduanya adalah pemain Jerman yang memiliki ikatan biologis dengan Turki.
Pada dasarnya Ikay Guendogan juga mendapatkan perlakuan serupa dengan Oezil. Namun, pemain tengah Manchester City tersebut cepat-cepat klarifikasi sehingga kasus fotonya dengan Erdogan tak berhembus jauh. Adapun Oezil memilih bungkam karena memang sedang fokus membela Jerman di Rusia. Petaka kemudian muncul saat Jerman dipaksa angkat koper dari Rusia setelah kalah dari Korsel.

Setelah itulah Oezil bertubi-tubi diserang oleh fans dan (media) Jerman. Katanya Oezil bertanggungjawab atas loyonya penampilan Jerman selama berlaga di Rusia. Oezil dituding tak nasionalisme dan setengah hati membela Der Panzer. Alasannya apalagi kalau bukan aksi foto selfie dirinya dengan Erdogan.
Awalnya Oezil masih bungkam dan enggan angkat suara terkait kasus ini. Namun, lama-lama Jerman dan medianya belum berhenti menyerang Oezil secara rasis. Tak lama, kemudian Oezil pun angkat suara serta memutuskan pensiun dini dari timnas Jerman. Rasisme menang dan nilai-nilai kemanusiaan serta universal di dunia sepakbola pun kalah.
Saya pikir aksi Oezil sudah benar dan ia sudah cukup sabar dengan kasus tersebut. Namun seperti halnya seorang kekasih yang juga memiliki batas sabar menghadapi pacarnya yang kelewat cemburuan. Oezil masih oke-oke saja membela Jerman selama media negara tersebut memutus pemberitaan tentangnya. Tetapi media Jerman sepertinya tak mengindahkan hal tersebut dan terus menyudutkan Oezil dengan memanggilnya pemain Jerman - Turki.

Sebagai manusia, Oezil mempertanyakan sikap media dan fans Jerman yang masih berpikir cetek. Oezil meradang ketika ia disebut tak nasionalisme hanya karena foto selfie dengan Erdogan. Padahal Oezil sudah mengklarifikasi bahwa pertemuannya dengan Erdogan hanya sebatas pertemuan biasa antara warga negara dengan presidennya dan membahas perihal bola. Tidak lebih.
Mungkin dugaan Oezil benar, bahwa, agama juga memberikan andil kenapa ia diserang secara rasis oleh Jerman. Orang-orang Jerman menyebut Oezil sebagai warga Jerman - Turki ketika timnas Jerman kalah bertanding. Tetapi mereka tidak pernah memanggil Oezil sebagai pemain Jerman sejati saat tim racikan Joachim Loew tersebut meraih kemenangan.
Analisis inilah yang membawa saya sepakat dengan Oezil, bahwa, rasisme di dunia sepakbola tak bisa benar-benar dipisahkan dengan agama. Kenapa hanya Oezil yang disebut pemain Jerman - Turki padahal di tubuh timnas Jerman ada pemain Jerman - Polandia seperti Miroslav Klose dan Lukas Podolski? Kenapa media Jerman hanya melihat Oezil dan menutup mata untuk pemain lain?
Kita tidak benar-benar tahu jawabannya. Yang pasti rasisme terus ada di dunia sepakbola. Padahal kalau boleh jujur, sepakbola adalah salah satu olahraga yang menjunjung tinggi sportifitas dan nilai-nilai baik lainnya. Namun selalu ada orang dengan antena cetek yang terus mengaitkan sepakbola dan agama sehingga kasus seperti Oezil sepertinya memang akan terus terjadi. Tetap tangguh, Oezil!

Regards
