Kutuliskan Cinta untukmu dengan ‘C’ kapital, bersama hasrat yang kian menebal…
Steem yang mempesona… sebelum kulangkahkan aksara, mendahului pacuan kata dan pesat-laju lesat kalimat, ketahuilah… aku sungguh suka Parkia Speciosa, juga Archidendron Pauciflorum; anugerah citarasa semesta yang lebih tersohor dengan lakab petai dan jengkol. Kuharap engkau memahami kesukaanku yang satu ini sebagai rahasia terdalamku; sisi gelap yang sungguh ingin kusimpan sendiri. Namun, aku ingin memulai langkah menuju engkau dengan segenap keterbukaan. Mengharamkan segalah rahasia di antara kita.
Meski belum pernah kutau tentang seberapa baik engkau, aku tak ragu mencoba mengungkap rasa; sebab, ini soal kelindan pesonamu dan pasrahnya keterpesonaanku. Semacam kesan pertama yang selalu timbul pada pertemuan pertama, bukan perjumpaan ke-572. Kesan pesonamu t’lah tiba merepihkan batin. Lepuh sudah tubuh oleh hangat yang kerap. Misterimu merayu lekap oleh kabar menderu-derap. Misteri… ya… misteri…
Pada senyummu ia bersemat. Misteri dalam teka-teki dalam kelindan cryptocurrency. Meski terlalu dalam engkau terpendam, kecantikanmu nan tersembunyi telah menjadikan engkau sebentuk indah yang aman terlindung, boh lam blockchain; indah… segar… ranum-merekah… Kilau pesona tak tersentuh mata, yang semata menuntut karya nyata.
Steem... aku cuma mampu menjanjikan diri tak akan menjadi lelaki jahat. Akan tetap kutemani kau tidur sebelum jam 10 malam, meski saat El Clasico aku akan terbangun mengendap-endap mencari warkop terdekat. Aku berjanji tak ‘kan menjadi lelaki jahat, Steem… tapi aku tak mampu menjanjikan diri untuk tak menjadi lelaki nakal. Wujud kenakalan semacam begadang bersama kawan dalam khanduri meet-up.
Namun, aku berjanji, pillow-talking akan menjadi penutup hari dan penghias malam. Aku tetap akan membisikkan, “Kau makin menggemaskan saja, Cinta…”
Percakapan ranjang yang akan kita selenggarakan dengan saling bertatap mata sembari berbaring miring; membahas kenakalan anak-anak, rencana liburan atau sekedar soal daftar belanja, sambil menangkupkan telapak tanganku di pipi kirimu dan berakhir dengan kecupan di kening atau gemeretak dan kerenyit ranjang membelah malam nan hening.
Menatap matamu membuat aku memahami betul makna larik “And when you see your unborn children in her eyes” dalam “Have You Really Ever Loved a Woman”. Suara serak Bang Bryan Adams berpadu dengan melodi akustik petikan Paco de Lucia mengukuhkan betapa menatapmu sungguh membuat aku merasakan meneropong masa depan, melihat anak-anakku yang belum terlahir di bening retina matamu, wahai Steem-Cintaku…
Sesekali aku akan merengkuh pinggangmu dari belakang, saat kau sedang mengerukkan spatula di blender, atau tengah mengaduk tumis kangkung dalam kuali.
Membiarkan engkau menari di benak membuat oksitosin dan serotonin membunuh kantukku. Resah namun indah saat gelisah datang menggebah. Tanpa sulam balasan rasa, sungguh nestapa bertukar wujud menjadi lukisan bernuansa gloomy di dinding batin.
Aku tak peduli meski sambutmu tak pernah singgah kemari. Cukuplah aku yang tak lena tidur memendam rasa tak berungkap. Setidaknya, saat surat ini engkau baca, resah telah terbagi, tak lagi jadi milikku sendiri. Sebab seburuk-buruk rasa adalah yang tak pernah terungkap, meski kadang mungkin memiliki peluang bertaut-sambut.
Bersama janji menjadikan engkau kenangan tak terdua, teruntukmu kusajikan segala rasa organik; bawang putih dan kuah kaldu, bukan kepalsuan nikmat Mono Sodium Glutamate…
Aku tak bisa jatuh Cinta pada engkau, sebab padamu bangkit Cintaku…
Pendambamu Selalu,
Hari ke-75 Tahun 2018