Dengan tas yang berisi peralatan mendaki kini sebelas orang yang tergabung siap untuk melakukan traveling. Saat dalam perjalanan memasuki kawasan Bener Meriah seketika hujan turun dengan lebatnya. Dengan suhu kota dingin yang cukup membuat menggigil di malam hari ditambah dengan guyuran hujan hingga membuat kami semua basah kuyup. Perjalanan Lhokseumawe-Bener Meriah menghabiskan kurang lebih empat jam dengan menggunakan kendaraan sepeda motor
Rencana mendaki harus dibatalkan karena hujan tak henti-hentinya mengguyur Bener Meriah. Mengingat persiapan sudah begitu matang dengan membawa tenda, sleeping bad, dan peralatan mendaki lainnya membuat segurat kekecewaan dari wajah-wajah para petualang ini. Jika memaksa pun keadaan akan menjadi lebih buruk lagi nantinya, terlebih hujan akan membuat tanah menjadi licin, belum lagi petir yang akan menyambar pohon-pohon, tak ada yang mau mengambil risiko jika nanti pohon akan tumbang menimpa kami. Dan juga dengan peralatan mendaki yang basah kuyup karena hujan lebat dalam perjalanan semakin membuat alasan yang kuat untuk tidak bersikap nekat. Semalaman kami berdiskusi tempat mana yang akan dikunjungi setelah mendaki gunung Burni Telong terpaksa dibatallan karena kondisi alam yang tak mendukung. Panten terong, Gayo Highland, dan Air terjun Tansaran Bidin tercatat menjadi planning kedua
Pagi yang diawali dengan segelas kopi khas Gayo dan sedikit kue untuk sarapan menambah energi terkumpul untuk siap menjelajah. Tempat yang akan kami kunjungi yaitu Air terjun Tansaran Bidin yang berada di kampung Wonosari Kecamatan Bandar Kabupaten Bener Meriah. Meski memiliki sejuta pesona keindahan tempat ini masih asing ditelinga wisatawan, bahkan ada yang belum mengetahuinya. Oleh sebab itu jalan belum dibuka.
*“jangan pakai sepatu pakai sandal aja, nanti sepatunya rusak, soalnya jalannya berlumpur. kita akan berjalan kaki” * ucap kakak ipar teman kami
Kami menggunakan mobil untuk sampai ke lokasi tujuan, sekitar 30 menit perjalanan dari Simpang Balik. Mengingat ke lokasi air terjunnya tak bisa menggunakan kendaraan kami turun dan berjalan kaki kurang lebih satu setengah jam. Bukan hanya sekadar lelah tapi ini benar-benar perjalanan yang cukup menantang terlebih bagi orang yang suka dengan pertualangan. Fisik yang kuat sangat diperlukan untuk meneruskan perjalanan. mengingat air terjun ini lokasinyaa sangat terpelosok dan jarang ada yang menyambangi, jalan belum benar-benar dibuka. Kita harus melewati hutan dengan jalan setapak yang licin tanpa ada pegangan hanya semak belukar yang daunnya berduri. Turunan yang curam, jalan yang licin membuat kita harus ekstra hati-hati dikarenakan bila salah memijak kita akan terpleset dan jatuh ke jurang yang tidak dapat diperkirakan kedalamannya berapa
Ternyata memang benar air terjun yang dikatakan sebagai air terjun tertinggi dikota bener meriah dengan ketinggan 50 meter itu memiliki sejuta pesona keindahan yang tersembunyi, tak hanya membuat mulut menganga, angin yang berhembus memberi kesejukan yang sangat berbeda dengan polusi di kota, percikan air terjun seolah memanggil-manggil untuk segera dinikmati, hamparan pohon hijau yang tumbuh lebat sungguh menambah kesegaran. Meski lelah dengan berjalan kaki yang cukup menguras energi dengan pakaian yang serba kotor dengan lumpur terkalahkan degan keindaahan dari sang pencipta.
Sesuatu yang indah pasti akan rusak tanpa dijaga dengan baik. Meski memiliki keindahan yang cukup memuaskan, namun tempat ini masih kurang pengawasan. Sampah-sampah dari para orang alay yang mereka menyebut dirinya sendiri sebagai para petualang berserakan dimana-mana. Sehabis bermain air, memang tak jarang perut terasa lapar., hingga makan adalah pilihan yang tak bisa dihindari. Namun, bukan berarti harus merusak alam yang sebegitu indahnya dengan jejak sampah yang kita tinggalkan. Jika kita bersahabat dengan alam, alam pun akan bersahabat juga dengan kita.
Ketika hendak turun ke lokasi motivasi terbesar adalah melihat keindahan air terjun yang tersembunyi itu. Namun ketika naik untuk pulang apa yang harus dijadikan motivasi? Sebagian merasa lelah dan berhenti sejenak untuk istirahat, sebagian tetap berjalan menanjak pelan dengan napas yang tersenggal-senggal. Lalu sebagian lagi sibuk mengabadikan gambar
“Semangat , jodoh kita udah diatas nunggu. Jangan lama-lama istirahat” teriak Ayu Fitria dengan semangatnya menanjak untuk tiba segera diatas, walaupun sudah sangat lelah. Lalu sebagian yang tadi beristirahat seolah mendapatkan energi untuk secepatnya tiba diatas. Ada yang bermotivasi telah ditunggu jodohnya diatas, ada yang semakin bersemangat akan kurus setibanya diatas, ada juga yang ingin cepat kembali karena sudah tak sabar dengan trip selanjutnya. Semua punya motivasi yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan
Kini sosial media memang merubah segalanya dari yang tersembunyi menjadi terekspos di dunia maya. Banyak yang sudah mengupload foto-foto keindahan air terjun tansaran bidin di facebook maupun di Instagram. Banyak yang penasaran dengan keindahan yang ditawarkan dan dikabarkan bahwa jalan menuju lokasi air terjun sudah dibuka. Namun belakangan ini aku baru mendengar bahwa air terjun ini sudah ditutup, disebabkan tragedi tewasnya pasangan yang sedang malakukan foto prewedding dengan background air terjun tersebut. Sayang sekali bila ditutup adalah keputusan akhirnya karena keindahan ini benar-benar nyata. Tapi apa boleh buat jika keputusan ini diambil untuk tidak ingin adanya korban jiwa lagi.