Selamat sore kawan-kawan steemians...
Semoga kawan-kawan steemians semua dalam keadaan sehat dan bahagia.
Aceh adalah salah satu daerah yang memiliki adat istiadat yang sangat kental, kaya akan kearifan lokal. Berbicara budaya, rasanya tidak akan ada habisnya. Menarik sekali ketika topik yang ingin dibahas mengenai budaya karna budaya berkaitan erat dengan kehidupan manusia.
Rumah Adat Aceh
Peusijuk adalah salah satu ritual atau prosesi adat dalam budaya masyarakat Aceh. Tradisi ini dilakukan untuk memohon keselamatan, ketentraman, dan kebahagiaan dalam kehidupan kepada sang pemilik Alam.
Tradisi peusijuek merupakan salah satu tradisi yang sudah ada sejak zaman dahulu, sampai hari ini masih sangat sering dilakukan. Tradisi ini biasanya sering dilakukan di hampir semua kegiatan adat masyarakat Aceh, seperti pernikahan adat, perayaan adat, syukuran dan upacara adat lainnya yang berkaitan erat dengan kehidupan.
Istilah peusijuek sebenarnya bukan bagian dari adat, akan tetapi menurut penuturan orang-orang terdahulu peusijuek bagian dari Reusam, disebabkan karna pertumbuhan dan perkembangan zaman dan sudah membudaya, maka masyarakat menganggap peusijuek adalah budaya.
Reusam sendiri memiliki makna yang berbeda daripada adat. reusam adalah aturan-aturan, kebiasaan-kebiasaan atau petunjuk-petunjuk adat istiadat yang ditetapkan oleh keusyik (kepala desa) setelah mendapat persetujuan dari tuha peut gampong. Sedangkan adat yaitu, sejumlah aturan tingkah laku yang berlaku dan baku dalam masyarakat.
Konon bermula asal muasal sejarah tradisi peusijuek merupakan salah satu peninggalan budaya Hindu. Kaitannya dengan hindu disebabkan Aceh pada zaman dahulu memiliki hubungan perdagangan dengan India, sehingga lama kelamaan budaya hindu mempengaruhi masyarakat Aceh.
Kata peusijuk diambil dari kata “sijuek” dalam bahasa Aceh yang memiliki makna “dingin”, sedangkan “peu” merupakan awalan yang memiliki makna “melakukan”. Sehingga “peu-sijuek” dapat diartikan “melakukan ritual pendinginan, atau menyejukkan”.
Beberapa peusijuek yang sampai hari ini masyarakat Aceh masih melakukannya, yaitu:
Peusijuek Pernikahan / Perkawaninan
Peusijuek Sunah Rasul
Peusijuek Peudong Reumoh (Dirikan Rumah Baru)
Peusijuek Woe Reumoh Baro (Pulang ke Rumah Baru)
Peusijuek Jak U Haji (Menasik Haji)
Peusijuek Bijeh (Benih Tanaman)
Peusijuek Kendaraan
Dan masih banyak lagi peusijuek lainnya yang sampai hari ini masyarakat Aceh masih melakukannya. Namun yang saya tampilkan pada kesempatan kali ini yaitu Peusijuek Peudong Rumoh dan Peusijuek Woe Reumoh Baro.
Rumah Adat Aceh
Rumah adalah bagian terpenting dari kebutuhan pokok setiap manusia. Karena itu, membangun rumah selalu menjadi prioritas dalam menentukan hari baik, bulan yang baik untuk mendirikan rumah, atau dengan istilah orang Aceh menyebutnya Pileh Uroe Get Buleun Get. Demikian juga dalam memilih bahan-bahan rumah yang dianggap baik. Selanjutnya, membangun rumah diawali dengan upacara peusijuek. Yang dipeusijuek adalah tiang raja, dan tiang putri, serta tukang yang mengerjakannya agar pondasi-pondasi rumah dan yang mengerjakan pembangunan rumah diberkati oleh Allah SWT.
Perangkat Peusijuek
Pada saat pelaksanaan tradisi peusijuek ada beberapa bahan yang harus disiapkan, yaitu perangkat alat serta bahan peusijuek, panaburan, dan doa. Untuk perangkat dan bahan peusijuek biasanya terdiri dari bu leukat (ketan), breuh pade (beras dan padi yang dicampur), teupong taweu (tepung yang dicampur air), on sisikuk (jenis daun cocor bebek), jenis daun-daunan, * naleung sambo* (sejenis rumput), glok (tempat cuci tangan). Bagi masyarakat Aceh, setiap bahan peusijuek ini memiliki filosofi dan arti khusus di dalamnya.
Ritual Peusijuek Dan Doa
Adapun pada saat ritual peusijuek bacaan yang dibacakan merupakan mantra-mantra untuk meminta kepada sang penguasa alam agar sesuatu yang di peusijuek mendapatkan keberkahan atau ketenteraman. Kemudian seiring masuknya agama Islam di Aceh, mantra-mantra itu diubah pelan-pelan oleh masyarakat Aceh dengan doa-doa Islam dengan lafaz berupa doa-doa, zikir dan shalawat yang ditujukan kepada Allah dan Rasulullah. Sehingga tradisi peusijuek masih melekat pada masyarakat Aceh sampai sekarang.