Ini adalah sebuah kisah yang bukan dituturkan oleh orang alim.
Tingkat keimanan seseorang berbeda-beda, termasuk saya. Postingan ini bukan untuk meningkatkan keimanan seseorang. Ini adalah sebuah postingan dari orang yang jenuh berdasarkan amatan semata-mata. Jika banyak salah, harap dimaafkan karena sudut pandang seseorang juga berbeda-beda.
Saya salut kepada sahabat Steemian saya, manakala dia mendengar azan di mesjid, dia langsung menghentikan aktifitas Steemit-nya. Dia bergegas menuju mesjid. Dia mengajak saya, tapi saya memilih untuk shalat sendiri.
Ada penyesalan dalam diri saya sekarang. Jujur saya katakan kalau saya terlalu mengejar kesenangan dunia saat itu. Miris memang. Padahal dengan berjamaah, pahala yang diperoleh akan semakin berlipat. Alangkah indahnya shalat berjamaah.
Tapi, ada juga sahabat Steemian saya yang terlalu berlebihan "bermain" Steemit. Usai saya shalat sendiri, sahabat itu belum beranjak dari kursinya. Kala itu waktu maghrib. Waktu yang sangat singkat untuk memenuhi panggilan Tuhan. Dia masih di sana sampai azan Isya berkumandang.
Dua analogi di atas sangat kontras. Kisah pertama adalah panutan saya dalam hal berjamaah. Meskipun saya malu karena jarang berjamaah. Kisah kedua adalah kesalahan saya. Saya malu karena saya tidak mengajaknya untuk shalat bareng.
Kisah ini tidak panjang-panjang saya tuturkan, karena saya bukan orang alim. Tapi yang ingin saya tegaskan adalah jangan melupakan shalat karena itu tiang agamamu.
Postingan singkat ini setidaknya menjadi pembelajaran bagi diri saya sendiri dan juga pengingat sebagai sesama muslim. Postingan ini juga tidak untuk menyudutkan seseorang. Hanya motivasi untuk diri sendiri. Jika tidak berkenan di hati, harap dimaafkan.
Mungkin ini tidak ada hubungannya dalam ranah Steemit. Jika pun nyambung, silakan Anda cari sendiri hubungannya.
Semoga Tuhan selalu membimbing kita ke jalan yang lurus!