Google.com
Tuan dan Puan Steemians...
Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah postingan menarik dari seorang Steemian. Sebut saja namanya "Pot Bunga," untuk tidak lagi menyebut bunga.
Dalam postingannya tersebut "Pot Bunga" menyajikan ulasan yang cukup menarik terkait Steem, Steemit dan Steemian.
Saya pun mencoba mengkhatamkan tulisan tersebut beberapa kali guna menghindari salah paham, salah nalar dan salah pikir yang nantinya akan berdampak pada munculnya kesimpulan yang keliru.
Dalam tulisannya itu, "Pot Bunga" sempat menyentil postingan Steemian lain yang menurutnya tidak berkualitas. Saya tidak tahu apakah "tudingannya" tersebut berbasiskan riset atau bualan belaka.
Tapi, sayangnya dalam tulisan "Pot Bunga" sendiri, saya justru menemukan beberapa typo yang sangat menganggu pembaca. Belum lagi beberapa logika kontradiktif yang tersisip di beberapa bagian tulisannya. Di sinilah, saya semakin tidak setuju untuk sembarangan menghakimi postingan orang lain.
Google.com
Selain soal kualitas postingan yang bagi saya sama sekali subjektif, "Pot Bunga" juga mencoba mempertanyakan keberadaan orang-orang besar di Steemit.
Dengan menggunakan perspektif pesimistis, yang bersangkutan menyebut Steemit sebagai minus dari keberadaan "orang-orang besar." Tapi sayangnya, "Pot Bunga" tidak memperjelas "definisi" orang-orang besar yang dimaksud sehingga selamanya ia akan bias.
"Pot Bunga" berkesimpulan bahwa tidak hadirnya "orang-orang besar" disebabkan oleh pongahnya warga Steemit yang meminta mereka untuk menanggalkan "pakaian kebesaran" di luar sana.
Penggunaan istilah "pongah" adalah tuduhan yang sangat menggelikan sekaligus "menjijikkan." Tanpa sadar, "Pot Bunga" telah terjebak dalam "kepongahannya" sendiri ketika membuat kesimpulan.
Kita kembali kepada "orang-orang besar." Siapa "orang besar" yang dimaksud? Apakah besar kepalanya? Besar badannya? Besar wawasannya? Besar modalnya? Atau besar kedudukannya? Tidak jelas!
Jika yang dimaksud orang besar adalah guru besar atau akademisi, maka Steemian Indonesia harus bergembira dengan bergabungnya Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, seorang Antropolog Aceh dengan akun dan Profesor Syamsul Rijal, Guru Besar Filsafat Islam di UIN Ar-Raniry dengan akun
. Saya menyebut dua nama hanya sebagai contoh belaka, tentu masih ramai yang lain. Ini di Indonesia, belum lagi di belahan dunia lain.
Jika yang dimaksud orang besar adalah tokoh-tokoh media, maka Steemian Indonesia pun patut bersenang hati dengan kehadiran ,
dan
di jagat Steemit. Ini baru beberapa nama, belum lagi yang lain.
Jika yang dimaksud "orang besar" adalah penyanyi, Steemian Indonesia juga patut tersenyum dengan kehadiran dan pelaku seni lainnya.
Jika yang dimaksud "orang besar" adalah tokoh-tokoh yang berani berinvestasi, maka kita patut berbangga dengan dan
. Ini baru dua nama, belum lagi yang lain.
Jika yang dimaksud "orang besar" adalah penulis, kita punya ,
,
,
,
dan "sebatalion" nama lainnya.
Jika yang dimaksud "orang besar" adalah blogger, kita punya ,
dan "ratusan" nama lainnya.
Jika yang dimaksud "orang besar" adalah ahli IT, Steemit memiliki dan sederatan nama lainnya.
Jika yang dimaksud nama besar adalah "pemberani," Steemit juga telah dihuni oleh orang-orang semisal .
Bahkan sendiri adalah "orang besar" di platform ini. Lantas siapa yang dimaksud "orang besar" oleh "Pot Bunga"?
Akhirnya kita hanya bisa menebak-nebak. Atau kita sendiri telah terjebak?
Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu di sambung kembali...