Kandang Bebek tahun 2009. Sekarang sudah punah
Tuan dan Puan Steemians...
Pagi itu saya bangun pagi-pagi. Saya bisa bangun pagi-pagi karena saya tidur malam-malam. Saya bisa tidur malam-malam karena saya main siang-siang.
Saya langsung ke kamar mandi. Suasana dingin. Tapi saya harus mandi. Caranya? Saya panaskan air. Bruuuum. Saya sudah mandi!
Saya mencari lemari. Mana pakaian? Fuiiih. Baju celana sudah memakaikan diri. Saya pun sudah berbaju.
Saya keluar. Saya mencari Alimin dan Ma'un. Saya tiup peluit. Mereka berdua datang, pakai sepeda. Ditambatnya sepeda, diberinya rumput. Warna kuning!
"Mana kandang?" Tanya mereka. "Ada di belakang," jawab saya. Mereka percaya, tidak ada bantahan.
"Ini hari kita cari bebek Angsa," kata saya lagi. "Di mana?" Tanya mereka lagi. "Di kandang ayam," jawab saya sekali lagi.
Kami pun melangkah ke belakang. Mencari kandang ayam. Kami ada satu proyek bersama. Ingin mencari bebek Angsa di kandang ayam.
Kami harus berhasil. Aturan sudah kami buat. Bebek Angsa harus ditemukan di kandang ayam. Caranya? Jika dua di antara kami memberi suara maka itulah bebek Angsa, walaupun berwajah ayam.
Akhirnya sampailah kami di kandang ayam. "Ini kandang ayam, kenapa isinya bebek?" Si Ma'un mulai protes. Saya dan Alimin memberi suara, walaupun isinya bebek, ini tetap kandang ayam. Kami menang 2 suara, si Ma'un kalah, sebab 1 suara.
Masuklah kami ke kandang ayam yang berisi bebek. Si Ma'un menangkap seokor ayam. Si Alimin juga menangkap ayam. Sementara saya menangkap bebek Serati.
Saya katakan kepada mereka bahwa bebek di tangan saya adalah Angsa. Sementara si Ma'un dan Alimin bersikeras bahwa ayam yang mereka tangkap adalah Angsa. Akhirnya saya kalah suara. Si Alimin dan Ma'un menang dengan 2 suara.
Akhirnya mereka berdua bergembira sebab telah sukses melakukan promo bebek Angsa dengan sebuah spanduk bergambar ayam.
Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali...