Menuangkan ide dalam tulisan
Banyak yang mengeluh kehilangan ide ketika menulis. Tragisnya lagi, ada pula yang mengaku sama sekali tidak memiliki ide untuk menulis. Keluhan-keluhan ini seringkali dijadikan sebagai alasan untuk kemudian tidak menulis, atau berhenti menulis. Sebenarnya, jika ditelisik, alasan dan keluhan ini hanyalah alat untuk “bersembunyi” dari aktivitas menulis dengan menjadikan ide sebagai tumbal.
Memang harus diakui bahwa untuk dapat menulis kita membutuhkan ide. Artinya, kita tidak mungkin bisa menulis tanpa didahului oleh kemunculan ide. Dengan demikian ide memiliki kedudukan penting dalam dunia kepenulisan. Tapi apakah kita harus mengeluh ketika ide berlari pergi?
Mencari ide di kedai kopi
Bagi seorang yang kreatif, dia tidak akan menunggu ide itu datang dengan sendirinya, tapi dia akan melakukan usaha-usaha mengumpulkan ide. Artinya dia akan melakukan pencarian guna menemukan sebuah ide, bukan justru duduk layu dan berharap ide beterbangan dan hinggap di kepalanya. Ketika ide itu tak datang-datang, maka ia pun mengeluh dan meratap.
Meskipun untuk menulis kita membutuhkan ide, tapi bukan berarti ketiadaan ide menjadi pembenar untuk tidak menulis. Bagi mereka yang kreatif, mereka tidak akan menyerah pada kekosongan ide. Jika pun kemudian mereka gagal menemukan ide, maka ketiadaan ide ini bisa mereka kelola sedemikian rupa menjadi sebuah ide.
Penulis kreatif yang kehilangan ide bisa saja menulis tentang sebab-sebab idenya hilang. Bagi mereka yang tidak menemukan ide pun bisa menulis tentang sebab-sebab ia tidak menemukan ide. Ketiadaan ide juga bisa menghasilkan tulisan dengan topik “ide yang datang dan pergi” dengan mengulas kapan ide itu datang dan kapan pula ia pergi dan menyingkir dari kepala.
Akhirnya, saya ingin membuat sebuah kesimpulan kecil bahwa kita bisa saja menulis dalam kondisi ketiadaan ide dengan cara mengelola ketiadaan ide ini menjadi sebuah ide baru yang kemudian kita curahkan dalam tulisan.
Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…