Tuan dan Puan Steemians...
Dalam dunia pendidikan kita mengenal beberapa klasifikasi kecerdasan. Namun dalam artikel singkat ini saya hanya akan mengulas dua kecerdasan saja, sebab dua kecerdasan ini adalah "syarat minimal" yang harus dimiliki oleh seorang penulis.
Pertama, kecerdasan intelektual. Kecerdasan ini terkait erat dengan pengetahuan seorang penulis. Pengertian kecerdasan intelektual di sini tidak harus dibuktikan dengan "parade" gelar akademik yang menempel di depan atau di belakang namanya. Tapi, cukup dengan cara memperkaya pikiran melalui "literatur" dan membuka diri pada gerak zaman yang terus berubah.
Penulis yang cerdas secara intelektual adalah mereka yang tiada henti memperbarui pengetahuannya dengan cara keluar dari "tempurung" kejumudan.
Kedua, kecerdasan emosional. Seorang penulis yang cerdas secara intelektual hanya akan menjadi "robot pintar" jika ia tidak memiliki kecerdasan emosional. Artinya, tanpa kecerdasan emosional, pengetahuannya akan terbang liar kian kemari sehingga tulisannya pun akan menjelma sebagai coretan-coretan mati atau mungkin "provokasi."
Penulis yang cerdas secara emosional adalah sosok penulis yang mampu mengendalikan amarah sekaligus kegembiraannya ketika pikiran-pikiran itu ia curahkan dalam tulisan. Bukan penulis yang "meledak-ledak" dengan keangkuhan, kegeraman, kemarahan atau euforia.
Kecerdasan emosional yang dimiliki seorang penulis akan menjadi penuntun agar ia bisa memosisikan diri dan tulisannya secara tepat dalam kondisi rumit sekali pun.
Dengan demikian, bolehlah disimpulkan bahwa seorang penulis yang baik tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga harus cerdas secara emosional.
Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali...