Sebuah nama tiba-tiba mengetuk pintu hati. Berkali-kali hati ini diketuk serta terdengar ucapan salam yang sangat lembut. Hati ini enggan membuka pintu karena merasa malu. Nama itu terdengar sangat sederhana. Namun sangatlah indah karena dimiliki oleh keanggunan Sang Bidadari.
Ingin sekali rasanya membuka pintu hati ini. Mempersilahkan masuk dan mendengarkan suaranya yang lembut. Mendengarkan menyusun kata dalam hal siapa dirinya. Ada apa gerangan mengetuk pintu hati ini. Pintu hati yang telah lama terkunci dan tak ingin kembali terbuka atas nama cinta.
Dia memang berbeda. Mencoba membuka pintu hati dengan perlahan dan penuh kesabaran. Tiada paksaan serta dengan akhlak yang mulia. Lama-kelamaan hati ini tunduk dan dengan sendirinya terbuka. Ketika terbuka senyuman nan mempesona langsung menerangi hati yang selama ini gelap dengan keputusasaan. Kegelapan diakibatkan gagalnya menaklukkan cinta karena perbedaan.
Cinta tak pernah peduli dengan perbedaan. Cinta itu anugerah dari Tuhan untuk semua makhluk-Nya. Cinta akan selalu mendatangi jiwa-jiwa yang penuh dengan kesendirian. Cinta akan selalu mendatanginya dan menyampaikan pesan secara tersirat, bahwa ada kebahagiaan dan keindahan dalam cinta yang harus segera dinikmati. Tinggalkan semua penderitaan karena kesendirian yang tak tentu arah kehidupan.
Kembalilah menikmati kebahagiaan! Kata penyemangat yang penuh keikhlasan dan menggoda hati ini untuk kembali menjadi pecinta. Namun keraguan sering sekali menjadi aral melintang. Menggoyahkan rasa percaya diri dan terus mundur secara perlahan. Dia layaknya bidadari yang tak hanya anggun tetapi selalu menebarkan kebaikan. Tentu saja itu menguatkan hati agar terus maju dan memilikinya.
Seberapa pantaskah hati dan jiwa ini untuknya. Seorang bidadari turun ke bumi dan menjadi penyelamat dari kesendirian dengan jiwa yang kosong. Hanya takdir Tuhan yang bisa menjawabnya.
Brebes, 5 Juni 2018
Jam Sebelas Lewat Lima Puluh Dua Menit
Tusroni