Selamat sore teman, apakah di daerahmu hujan, jika ia menyejukkan bukan?
Tentang apa yang ingin aku kisahkan adalah makanan. Dua minggu lalu tepatnya malam rabu, Tuan mengajakku dan anaknya makan bersama. Menu utama adalah udang.
Besar dan gurih dan dalamnya ada telur udangnya. Sebenarnya ini adalah kunjungan kedua kalinya. Mereka sangat dermawan padaku.
Yang membuat lebih berkesan dan rasa syukur terus terucap adalah mereka menghargaiku sebagai seorang muslim dimana tidak makan babi atau apapun yang bersangkutan dengannya.
Nasi goreng, ini menu sederhana tapi karena rasa pengertian mereka terhadap larangan dalam agamaku, mereka memesannya sampai tiga kali. Pertama ketika aku datang sudah ada satu piring dan ada campuran daging babinya. Tuan memesan satu porsi lagi sebab dia juga ingin makan dan meminta untuk tidak ada campuran daging babinya agar aku pun bisa ikut menikmatinya.
Namun sayangnya ketika aku ingin menyendok bos perempuanku mengamati ada campuran babinya, tapi berbentuk ham. Dia pergi ke dapur mencari pemilik restoran untuk memastikan apakah benar itu terbuat dari daging babi atau dari sayuran. Dan ya, ia terbuat dari daging babi. Alhasil Tuan memesan lagi satu porsi nasi goreng dan meminta kokinya agar memastikan tidak ada campuran daging babi dalam bentuk apapun meski sedikit.
Antara terharu, malu, dan sungkan aku menikmati makan udang dan nasi goreng yang sudah siap saji. Benar, hanya ada sayuran dan telur. Sngguh hanya demi seorang pekerja mereka rela memesan makanan sampai tiga kali. Mereka menghargai perbedaan, menghormati agamaku. Mempersilahkanku menjalankan perintah dan larangan agamaku.
Toleransi dari mereka membuatku merasa sangat beruntung. Tidak semua pekerja di negara mayoritas non-muslim ini mendapat hak mereka. Perjuangan para perantau bukan hanya berjauhan dengan keluarga.
Nah, kembali ke nasi goreng, karena sudah cukup kenyang dengan banyak hidangan, nasinya tidak bisa habis. Mereka memintaku untuk membawa pulang dan memberikan kepada salah satu temanku yang ketika aku dan majikan mau berangkat mereka dengan bercanda meminta untuk dibelikan makanan.
Akhirnya nasi goreng yang masih terbilang utuh dan udang yang masih ada sebagian, menjadi pilihan.
Yah mungkin kita berpikirnya sebuah sisa namun yang jadi point di sini bagiku adalah kepedulian majikanju terhadap pekerja lain. Saat di mobil aku berbincang dengannya, bagaimana dia begitu peduli pada pekerja lain sedangkan majikan mereka sendiri kadang tidak perduli.
Dia dengan santai menjawab "Aku tahu kalian jauh bekerja ke sini itu tidak mudah dan penuh perjuangan, maka berbagi sedikit tiada salahnya. Mangkanya kamu itu orang yang menerima gaji dariku, sudah sewajarnya aku ikut campur sebagian dari masalahmu. Ya salah satunya jika hasil kerjamu selalu dihutang orang". Lagi-lagi dia menyinggung soal masalahku ini. Tapi perbincangan ini hanyalah selingan, candaan. Sebab Tuan suka bercanda.
Anugerah, nikmat itu bermacam rupa. Ianya kadang tampak kadang tidak. Dan hati yang bisa merasa semua rahmat dari-Nya.
Selamat menikmati kebersamaan dengan keluarga. Tidak semua seberuntung kita. Maka jangan terlalu lama mendongak, lebih seringlah menunduk dan menoleh.
salam aksara senja dari bumi Formosa
(photo by samsung j5)