Arab Saudi menyatakan, pihaknya menyambut baik tawaran menjadi mediator perdamaian bagi Israel dan Palestina. Saudi diharap bisa menggantikan Amerika Serikat (AS) yang dinilai tak netral dan lebih berpihak kepada Israel pasca mengakui Yerusalem jadi Ibu Kota Israel.
Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Osama bin Mohammed Abdullah al Shuabi mengatakan, hal itu sulit terwujud karena persoalan diplomatik kedua negara. “Arab Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, maka mustahil kami menjadi penengah,” ujar Osama seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu, (21/12).
Ia juga membantah kabar negaranya menawarkan Abu Dis sebagai ibu kota Palestina karena bertentangan dengan kebijakan Saudi. “Sejak zaman Raja Faisal, Raja Fahd, Raja Abdullah hingga Raja Salman, sikap Saudi tetap sama yakni Yerusalem adalah ibu kota Palestina,” kata Osama.
Osama menegaskan negaranya bersama dunia Arab menolak keputusan AS yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. “Negara-Negara Arab mendukung hak-hak Palestina dan mengharapkan AS menaati keputusan PBB bahawa Yerusalem adalah Ibu Kota Palestina,” katanya.
Sebelumnya, Palestina mengatakan, AS sudah tidak bisa lagi diharapkan menjadi penengah karena telah berpihak kepada Israel.Rakyat Palestina kecewa dengan sikap AS, mereka melakukan unjuk rasa di berbagai belahan di Palestina.
Kini, negeri yang diduduki Israel tersebut sedang mencari negara alternatif untuk menjadi mediator perdamaian. Palestina berharap Yerusalem Timur akan menjadi ibu kota masa depan mereka.