Halo Steemians!
Senang sekali bisa tergabung dalam lingkaran baru yang bernama Steemit. Saat mbak Alaikaabdullah dan mbak mariska.lubis mengenalkan steemit di dalam sebuah kelas online rasa tertarik mulai timbul, dimana selain tulisan akan terus terekam tanpa perlu membayar biaya perpanjangan, para steemians juga dapat menghasilkan. Udah gitu gak melulu harus tulisan, bisa foto, video, semuanya dalam satu platform. Wow banget buat saya.
Proses approval saya tergabung di steemit pun dapat dikatakan sangat lancar, saya mendaftar di tanggal 3 juni 2018 dan pada tanggal 8 juni 2018 sudah mendapatkan email approval. Waktu yang cukup singkat bila dibandingkan dengan teman-teman yang tergabung dalam kelas online steemit. Begitulah cerita singkat saya bergabung di steemit.
Saya sendiri baru menekuni dunia menulis (blogger) sejak September 2017 saat memutuskan resign dari pekerjaan saya sebagai employee benefits consultant di salah satu perusahaan asuransi multinasional, dan memutuskan membuat blog dengan Top Level Domain di Desember 2017 dengan alamat domain www.wennytendean.com. Diawali dengan dukungan setengah hati dari suami saya (sampai saat ini), saya berusaha tetap konsisten walau kadang terjadi pertengkaran karena mengerjakan deadline sampai subuh (begadang).
Di usia pernikahan kami yang akan memasuki tahun keempat, kami telah dikaruniai anak permpuan yang sekarang berusia 21 bulan. Empat tahun pernikahan yang masih seumur jagung ini bagi saya terasa cukup berat, karena seringkali pertengkaran terjadi terutama karena ketidakcocokan saya dan mama mertua yang tinggal di rumah kami. Suami sendiri merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara (yang sudah berkeluarga semua) dan memiliki persoalan yang cukup rumit dalam keluarganya sendiri. Sementara saya merupakan anak kedua dari 3 bersaudara, dimana sejak kecil sudah tinggal dengan tante (saudara perempuan dari mama) di jakarta, dan puji Tuhan memiliki keluarga yang bagi saya sangat harmonis di tengah permasalahan ekonomi yang sangat pas-pas an.
Jujur saja dengan adanya mama mertua tinggal serumah saya merasa cukup tertekan dan tidak bebas mengeksplor diri. Ada saja keluhan, dimana penyampaiannya selalu dilakukan ke ipar saya atau suami (di belakang saya) yang ujung-ujungnya membuat saya dan suami jadi bertengkar. Namun, akhirnya saya menyadari kalau begini terus saya sendiri yang akan terpuruk, dan akhirnya saya memutuskan lebih "tidak peduli" dengan perkataan mama mertua di belakang saya.
By the way untuk tulisan perdana ini saya tidak memakai foto, karena masih bingung memasukkan foto. Tulisan berikutnya akan saya coba melalui laptop yang mungkin lebih mudah. Akhir kata terima kasih karena telah membaca cerita singkat tentang diriku dan lingkaran hidupku sampai akhir ya. Jangan bosan membaca tulisan-tulisan dan update saya lainnya steemians! :)