Berakhir sudah masa kopi berbunga. Hujan memaksa bunga kopi jatuh terkulai lemas. Tapi tangkai bunga menahannya.
Semerbak wanginyapun hilang. Bunga yang ditahan tangkai berubah coklat tua kehitaman, bulir air terperangkap disana.
Suasana tak lagi seperti saat aroma wangi bunga mekar. Bak di taman Syurga. Saat jutaan bunga menghiasi setiap pohon, cabang dan ranting kopi. Petani kopi, seperti raja saat itu.
Betapa tidak, karena hanya petani kopilah yang beruntung setiap hari menyesap harum itu. Warna di pohon kopi menjadi tiga, putih, hijau dan merah. Akh. Indahnya.
Penyerbukan kopi umumnya dibantu oleh serangga, seperti onek (lebah-gayo). Dalam filosofi gayo, kopi disebut Siti Kewe. Siti Kewe dinikahkan dengan angin ( Siti Kewe, Kunikahen ko urum kuyu). Dalam bahasa ilmiah ini disebut "penyerbukan".
Setelah bunga terkulai layu dan jatuh ke bumi. Bunga kopi yang sudah diserbuki, muncullah bakal buah.
Resiko terbesar dari bunga kopi adalah hujan. Saat bunga muncul, bunga belum diserbuki karena turun hujan, buah kopi tak akan jadi. Dan itu sering terjadi.
Seperti tahun ini. Produksi kopi turun akibat perubahan iklim. Akibatnya, harga dasar kopi naik sampai 20-30 persen.
Sementara tahun depan, produksi kopi diprediksi akan kembali normal. Jika melihat bunga kopi yang jadi buah tahun ini.