Begitulah sebuah kalimat bijak tercetus. Sang orang bijak, tentu sudah belajar dari berbagai hal dan parameter yang dipakai.
Sebuah rangkaian kata yang Tafsirnya bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Tergantung kita.
Petani menafsirkan kalimat ini dengan menanam kopi. Merawat ya hingga hasilkan uang dari menjual buah kopi.
Dari sudut pandang bukan petani, petani dinilai pekerja yang mengandalkan otot. Untuk hasilkan uang. Berkejang payah.
Pakaiannya lusuh. Alatnya cangkul dan parang. Tangannya kasar. Sebuah kehidupan sulit. Itu pandangan luar.
Politikus, memanfaatkan petani untuk dijual secara politik. Tafsir politikus jauh lebih sadis.Berorasi dapatkan posisi tawar. Menikmati kue politik apbn dari kekuasaan. Menjual janji untuk dibohongi.
Politikus, tafsir yang mengandalkan akal. Bukan tenaga tapi hasilkan uang dan berbaju safari, berkantong banyak. Tafsir politik jauh dari nurani. Tak mampu kumasuki.
Sementara tafsir hidup lainnya, bagaimana orang-orang hanya memanfaatkan teknologi hasilkan uang. Bukan uang sesungguhnya, virtual. Tanpa tenaga, tapi kekuatan akal.
Lantas, dimana kita?. Kitalah yang memilih tafsir hidup. Kita memilih jalan kita sendiri. Kita menjalani syarat hidup untuk tujuan hidup.
Petani, menilai politikus hidup mewah. Enak dan dicemburui. Sementara politikus menilai petani senang, sehat dan merdeka. Saling menilai dan menyalahkan posisi.
Siapa yang salah? Tentu tak ada yang salah. Tafsir tentang hidup yang menentukan posisi.
Tinggal bagaimana kita. Menjalani tafsir hidup dengan jujur atau menipu. Pilihan ada di kita. Ayat dan hadis adalah rambu yang indah dan penuh adab.
Islam ini, atur hidup. Agar indah dan tak menipu. Apalagi menyakiti. Kasih sayang yang syahdu dan berbagi lewat zakat dan sedekah. Hingga tak senang sendiri.
Tafsir hidup ini, tergantung kita. Karena hidup sangatlah sederhana. Tafsirnya saja beragam. Multitafsir. Tapi bagi Muslim Semua tafsir adalah ibadah. Hamba yang mengabdi. Mengembalikan nyawa yang dipinjamkanNya. Bismillah.
Gambar : tangan petani kupi