Tulisan ini untuk memotivasi diri sendiri, syukur kalau berguna bagi kawan-kawan.
[Bersama kawan-kawan usai tamat pengajian]
Judul sesuai kata ayah suatu hari, ketika saya asyik menonton drama Korea bersama bunda di laptop. Meminta saya menulis dan kurangi menonton.
Sasaran kata-katanya kepada saya, bukan ke bunda yang senyum-senyum saja. "Tu dengar ayah mu." Kalau sudah begini, saya sering salah tingkah, lalu menebar tawa dan tak membantah.
Setiap saat ayah selalu memperingatkan untuk belajar menulis cerita dan banyak membaca. Soal bahan bacaan, melimpah di rumah. Ragam buku, majalah tertata di lemari seperti pustaka mini.
[Buku-buku di rumah]
Menulis bisa dengan kisah apa saja, cerita sehari-hari di sekolah, berbelanja, menemani adik di rumah, bahkan juga cerita saat menonton film kesukaan. Mudah dipikir, tapi untuk melakukannya susah sekali.
Wadah untuk menampung tulisan, sudah banyak media sosial. Salah satunya di sini, #steemit. Jadi kalau ada tulisan, saya tak perlu lagi menyimpannya di handphone atau laptop maupun buku catatan harian alias diary.
Bagi saya, menulis belum menjadi kebiasaan karena harus selalu dipaksa orangtua. Biasanya melakukannya saat sekolah libur, seperti di bulan Ramadan. Tapi kalau membaca, pelan-pelan sudah mulai menyukainya, terutama kisah anak-anak.
Hobby masih saja menonton, ini berlangsung sejak kecil. Orangtua pernah bercerita, saat saya berumur 2 tahun bisa bertahan menonton berjam-jam, di depan televisi. Mungkin ini karena bunda juga, yang hobby nonton film. Hehehe… sorry bunda.
[Screenshot film korea di Viu]
Saat ini, menonton film masih menduduki urutan pertama hal yang paling saya sukai kalau lagi sendiri, soalnya kalau lagi teman-teman pasti bermain. Selanjutnya disusul mendengar musik. Sementara membaca dan menulis cerita masih harus dengan terpaksa.
Sesuatu hal yang dilakukan dengan paksaan memang berat. Tetapi kalau sudah menjadi kebiasaan ataupun ada unsur kewajiban di dalamnya, pasti akan terbiasa. Misalnya, membuat PR (pekerjaan rumah) yang harus diselesaikan seperti kata guru. Pada saat awal-awal sekolah tugas sekolah adalah keterpaksaan. Kita harus membuatnya, karena besok ditagih guru dengan ancaman sanksi bila melanggar.
Dan benar saja, saat awal-awal mengenal PR selalu merasa berat karena dipaksa. Setelah terbiasa, itu bukan lagi kendala dan dikerjakan suka-cita. Saya rasa ketika dipaksa menulis oleh orangtua juga sama, lama-lama akan menjadi kebiasaan. Mudah-mudahan, saya sedang berusaha meraihnya, dan steemit akan menjadi tempat mempublikasikan cerita saya.