Apa Karya bersama keponakannya di Bangku Marsose
Perjalananku menjelajah Kabupaten Pidie mengantarkanku ke sebuah benda peninggalan Belanda yang disebut Bangku Marsose. Terletak di bawah jembatan Kuala Panteu, Gampong Blang Malo, Kecamatan Tangse, Pidie, bangku ini terlihat usang dan tidak terawat. Sebagian dari tempat duduknya yang membentuk setengah lingkaran itu hilang. Bangku ini terlihat tidak bermakna apa-apa bagi yang tidak mengetahui sejarahnya.
Ketika aku tiba ke tempat itu, aku mengira hanya bangku biasa yang digunakan untuk persinggahan. Awalnya tujuanku bersama dan
, ingin melihat air terjun yang berjarak sekitar dua kilometer dari bawah jembatan Kuala Panteu. Karena kami sudah melakukan perjalanan sekitar 1 jam dari Kecamatan Indra Jaya, Pidie, kami pun beristirahat di tempat itu.
Akbar menjelaskan bahwa bangku yang kami duduki ini adalah bangku peninggalan Marsose Belanda. Marsose atau yang disebut juga Marechaussee adalah pasukan komando modern pertama di Indonesia yang dibentuk oleh Belanda pada tahun 1814. Bangku ini sengaja dibuat oleh pasukan Marsose sebagai tempat peristirahatan mereka saat melewati daerah Tangse.
Aku langsung tertarik dengan benda sejarah ini. Rupanya bangku yang disangka tidak ada apa-apanya ini, mempunyai nilai sejarah yang membuatku ingin berlama-lama di tempat ini.
Aku menyandarkan badan di bangku panjang itu, sambil mengadahkan kepala ke langit untuk menikmati sejuknya udara Tangse, sambil membayangkan suasana tempo dulu. Pastinya dulu banyak orang Belanda yang duduk di sini, mungkin noni-noni Belanda juga pernah kemari.
Di sekitaran bangku itu terdapat banyak pepohonan. Pemandangan di depannya pun juga indah, karena kita bisa langsung melihat pegunungan Tangse yang ditumbuhi pohon-pohon pinus.
Tiba-tiba aku terbayang kepada seseorang. Andaikan Rajaku bisa ikut kemari, pasti aku bisa menyandarkan kepala ke bahunya yang lebar itu. “Ratu menunggumu di bangku Belanda ini Rajaku” aku tersenyum, berharap angin membisikkan ke telinganya bahwa aku sedang mengingatnya.
Ada Apa Karya
Lamunanku tiba-tiba terusik ketika melihat seorang laki-laki tua, berkulit gelap menuju ke arah kami duduk. Wajahnya tak asing menurutku. Dia berhenti dengan jarak 5 meter dari tempat kami duduk. Sambil melihat-lihat pepohonan di sekitarnya, sesekali dia melemparkan pandangan ke kami.
Aku, Akbar dan Kak Ihan saling pandang, sepertinya kami memikirkan hal yang sama terhadap lelaki tua yang ada di depan kami.
“Kak, itu mirip Apa Karya, calon gubernur yang tidak terpilih itu kan?” tanyaku ke Kak Ihan.
“Iya ya, tapi kok ada di sini?” Kak Ihan juga heran.
Tiba-tiba si Akbar menyampiri lelaki tua itu sambil bersalaman. Lelaki itu menyambutnya dengan baik, sambil menuju ke bangku Marsose. Aku dan kak Ihan juga menyalaminya.
Kak Ihan pun mulai bertanya dengan gaya wartawannya. Sepuluh tahun lebih menjadi wartawan, tentu dia tahu memposisikan diri untuk memulai percakapan. Apalagi dengan bahasa Acehnya yang fasih, membuat Kak Ihan cepat akrab dengan lelaki tua itu.
Aku dan Akbar masih mengira-ngira, apakah ini benar Zakria Zaman calon gubernur Aceh, no urut dua yang sempat terkenal pada masa kampanye tahun lalu?
Rupanya Kak Ihan menangkap signal keraguan kami dan memberanikan diri bertanya kepada laki-laki yang menggunakan baju kemeja biru itu.
“Nan lon, Zakaria Zaman” ungkap lelaki itu dengan tegas.
Aku hampir saja memukul Akbar, karena tadi dia mengatakan bahwa laki-laki itu hanya warga yang kebetulan lewat di sini.
Mendengar Cerita dan Petuah dari Apa Karya
Begitu mudahnya membuat kami akrab, percakapan dengan menggunakan bahasa Aceh membuat Apa Karya banyak bercerita kepada kami.
Begitu juga dengan cerita bangku Marsose yang sekarang tanahnya ini, milik Apa Karya. Katanya dulu di depan bangku ini, ada pohon besar yang membuat bangku ini terlindungi dari sinar cahaya matahari atau pun hujan.
Aku dan terkesima mendengar cerita-cerita Apa Karya
Bangku ini sebagai pertanda bahwa Belanda telah menduduki Aceh, walaupun Belanda tidak bisa menaklukkan rakyat Aceh. Mereka sengaja membuat benda-benda seperti bangku ini untuk meninggalkan jejak. Dulunya di tengah bangku itu terdapat kuningan, namun ketika Jepan datang ke Aceh, kuningan tersebut diambil oleh tentara Jepang.
Hampir satu jam lamanya kami bercakap-cakap dengan Apa Karya, mulai dari kisahnya dulu saat menjadi pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berkelana di hutan, tentang pertemuannya dengan Pak Yusuf Kala membahas bendera Aceh, tentang Din Mini, sampai ke petuah dalam berumah tangga, dan tanggal serta hari yang cocok untuk hari pernikahan.
Banyak hal yang kami dapat dari diskusi tak teduga itu. Apa Karya sangat senang berbagi cerita dengan anak muda seperti kami yang masih jomblo ini. Dikarenakan dia menggunakan full bahasa Aceh tanpa teks, aku tidak bisa memahami sepenuhnya isi dari perkataanya.
Begitulah hidup, kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan dan kurang mengerti terhadap kejadian masa lalu. Dengan adanya benda peninggalan sejarah seperti Bangku Marsose, dapat dijadikan pembelajaran terhadap kisah sejarah perjuangan bangsa ini melawan orang-orang yang ingin merebut bangsa Aceh.
Sebagai penutur yang bukan bahasa Aceh, aku baru tahu Apa adalah sebutan paman dalam bahasa Aceh. Jadi, aku berharap ke depan Apa (paman) Karya dapat memugarkan dan melestarikan Bangku Marsose ini, supaya orang yang datang berkunjung kemari bisa mengatahui sejarah Bangku Marsose, karna tidak selalu ada Apa di sini yang bisa menjelaskan sejarah dari bangku ini seperti yang Apa ceritakan ke kami yang kebutulan bertemu Apa Karya.
Bangku Marsose Peninggalan Belanda