Hi Steemians,
Tato itu keren. Ada yang punya tato? Saya punya!
(Sumber foto: Facebook akun Yudhi Ihsan)
Tidak, saya cuma bercanda. Saya hanya memiliki tato dari sebuah aplikasi di play store android dimana gambar dari tato pilihan saya ditempelkan kedalam file foto. Setelah disave terciptalah sebuah foto seolah-olah saya memiliki tato betulan. Not bad lah.
Ah, cuma itu yang mampu saya lakukan. Keinginan untuk memiliki tato muncul sejak saya masih duduk dibangku SMP. Setiap melihat orang bertato, seperti para jagoan di film (kebanyakan bandit sih), selalu timbul keinginan bertato. Sebagai anak cowok, ada kesan macho kalau mempunyai tato dan bisa dipamerkan ke teman-teman, apalagi kalau dilihat para wanita, serasa kitalah cowok paling jantan di sekolah, hahaha..
(Proses pembuatan Tato. Sumber foto: Google)
Sekarang tato merupakan lifestyle, buat sebagian orang tato adalah gaya hidup. Tato adalah sebuah karya seni, layaknya lukisan mural/grafiti di dinding-dinding ataupun tembok bangunan. Hanya saja tato menggunakan media kulit tubuh sebagai kanvasnya. Banyak pesohor dan tokoh ternama di dunia hiburan dan olahraga di dalam dan luar negeri memiliki tato dibadannya. Sebut saja seperti Tora Sudiro, Kaka Slank, Chris Jhon, Marcos Maidana, Justin Bieber dan banyak lagi lainnya.
(Tora Sudiro. Sumber foto: Google)
(Justin Bieber. Sumber foto:Google)
Tapi tahukah steemians semua, sejak dahulu kala ternyata tato sudah cukup akrab dalam peradaban manusia dan kehidupan masyarakat. Tato berasal dari kata Tatu (bahasa Tahiti) yang artinya adalah tanda. Tato merupakan simbol yang digunakan oleh suku-suku di dunia untuk menyatakan lambang keagamaan dan spritual, tingkat strata sosial, kedewasaan, kepahlawanan dan lain sebagainya. Di Mesir, sebuah mumi kuno pernah ditemukan dengan beberapa tato atau gambar di tubuhnya. Bahkan di Indonesia sendiri, suku Dayak di Kalimantan sampai sekarang masih menggunakan tato untuk menunjukkan eksistensi mereka. Bahkan di negara Jepang, diakui atau tidak, terdapat sebuah organisasi terkenal yang bernama Yakuza yang menggunakan tato untuk identitas kelompok mereka. Nah yang ini sering kita jumpai di film-film, serem ya mereka
(Suku Dayak. Sumber foto: Google)
(Suku Dayak. Sumber foto: Google)
(Ilustrasi Yakuza. Sumber foto:Google)
Sedikit pergeseran makna, di Indonesia pada tato sempat dikonotasikan negatif. Orang yang memiliki tato dianggap sebagai orang jahat atau yang dikenal dengan preman. Sejarah Indonesia juga pernah menceritakan, dizaman penjajahan Belanda setiap penjahat, pencuri dan perampok yang ditangkap badannya akan ditandai dan ditato dengan cara di tempelkan besi yang panas. Proses yang sangat menyakitkan. Bekas dari kulit yang terbakar ini menimbulkan luka yang mengering dan tidak akan bisa dihapus dengan mudah. Dan mereka dengan tato ini akan selalu dicap sebagai penjahat. Hal ini memang terbukti, dari sebagian preman jalanan dan begal yang ditangkap polisi, sebagian besar dari mereka tatoan. Badan mereka penuh dengan gambar-gambar, bahkan juga tindikan anting disana sini. Sepertinya tato ini bisa mensugesti mereka untuk lebih berani melakukan tindakan yang melawan hukum. Mau meniru Yakuza ya genk?
(Preman bertato. Sumber foto: Google)
Kembali ke realita, walapun saya sangat mengagumi seni lukis si tubuh ini, dan sangat ingin memiliki sebuah tato indah dan keren di lengan, tetapi sebagai seorang muslim hal ini dilarang. Zat yang dipakai dalam teknik pembuatan tato permanen ini akan menutupi permukaan kulit. Dalam kajian islam tentang bersuci baik itu berwudhuk dan mandi, hal ini akan membuat air tidak bisa masuk ke pori-pori, dan itu tidak memenuhi persyaratan bersuci. Padahal jika saja tato tidak dilarang dalam agama saya, pasti saya akan mentato tubuh saya seperti idola saya sang boxer, Marcos Maidana, hahaha..
(Marcos Maidana. Sumber foto: Google)
Jadi untuk melampiaskan keinginan bertato, aplikasi tato imajinasi menjadi salah satu pengobat menghibur diri sendiri. Paling tidak saya bisa pamer foto bohongan keteman sambil bilang, "kamu punya tato nggak?"