Ada perasaan kecewa dan penyesalan mendalam di hati saya, setiap kali membaca berita adanya aksi intimidasi yang dilakukan sekelompok orang terhadap kelompok orang lainnya. Seperti berita yang hari ini menjadi trending di semua media nasional, terkait perilaku tidak manusiawi yang dialami seorang ibu rumah tangga, Susi Ferawati, di Jakarta.
Sejatinya, perbedaan pandangan, prinsip dan pilihan adalah sebuah hak. Seseorang tidak boleh memaksakan kehendaknya terhadap orang lain. Seseorang tidak bisa memaksakan pandangannya terhadap orang lain. Termasuk seseorang tak bisa memaksakan dukungannya terhadap calon presiden.
Namun itulah yang justru terjadi pada wanita bernama Susi Ferawati. Ia diitimidasi karena kaos yang dikenakan bernada dukungan pada Presiden Jokowi. Ia mengenakan kaos putih bertuliskan hashtaq “DiaSibukKerja pada acara Car-Free Day di Jakarta, hari Minggu kemarin. Ia dintimidasi oleh seorang laki-laki yang mengenakan kaos hitam bertuliskan hashtag #2019GantiPresiden.
Saya sendiri adalah orang yang memilih opsi hashtag #2019GantiPresiden. Namun saya tidak sepakat bila kemudian harus mengancam atau mengintimidasi orang lain yang memilih opsi berbeda. Lebih lagi hal itu dilakukan di depan umum, di depan anaknya yang masih di bawah umur.
Tindakan itu sungguh di luar sikap kematangan berpolitik. Sangat tidak bijak dilihat dari aspek dan kaca mata apapun. Karena sebagai makhluk sosial, dengan latar pendidikan yang berbeda, profesi yang berbeda, suku yang berbeda, agama yang berbeda, dan segala perbedaan lainya maka perbedaan pilihan dalam berpolitik adalah sebuah keniscayaan.
Sekelompok orang tidak boleh memaksakan pilihannya pada kelompok lain, pun pada satu individu, apapun alasannya. Masing-masing orang punya hak dan alasan sendiri untuk menentukan pilihannya berdasarkan pada daya analisis yang dimilikinya.
Saya berharap, polisi bertindak cepat untuk menindak orang-orang seperti ini, orang-orang atau kelompok orang yang gemar melakukan intimidasi.
Wanita ini punya hak untuk mengenakan kaos yang berbeda dengan laki-laki berbadan kekar itu. Lebih lagi, ia tidak sedang berada di sarang kelompok dengan pandangan berbeda. Ia bersama putranya dan ribuan orang lain sedang mengikuti kegiatan Car Free Day.
Dalam rekaman video yang menyebar luas di pelbagai media sosial terlihat wanita itu terus mendapat ejekan karena mengenakan kaos berbeda dengan pelaku. Menurutnya, ia tidak sendiri. Ada beberapa wanita lain yang juga menerima intimidasi seperti itu. Sungguh sangat memalukan.
Bangsa ini bangsa majemuk. Biarlah perbedaan menjadi pelangi yang menghiasi perjalanan semua masyarakatnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak boleh ada yang memaksa kehendak agar semua seragam, agar semua sama. Itu otoriter namanya. Dewasalah!