Terkadang, aku suka bertanya pada perasaanku sendiri, apakah mudah baginya untuk bergerak dari satu hati ke hati yang lain? Dan, setelah ke empat puluh kalinya aku menanyai diri layaknya si bodoh, jawabannye tetap saja “tidak”. Aku tak semudah itu berpindah hati. Meskipun terkadang tak dipungkiri, sesekali mencoba menganggumi seseorang yang dianggap memiliki iman di atas rata-rata dari diri ini.
Setelahnya, bertubi-tubi pertanyaan mulai muncul. Ingin bertanya pada tersangkanya, tapi rasanya mereka pasti akan dengan mudah mengelak. Ialah laki-laki, yang dapat dengan mudah “katanya” mencintai, sampai mengejar mati-matian demi perempuan yang diinginkan. Namun setelahnya, dengan mudah dilepaskan. Bahkan mereka pun sudah mengatur tanggal untuk say good bye.
Ah, entahlah. Aku sampai pernah berpikir, apa memang laki-laki sudah kodratnya untuk menyakiti. Sementara perempuan-perempuan sepertiku, yang enggan menangisi hal-hal receh seperti ini harus menahan pilu yang berkepanjangan akibat tak bisa menangis sesuka hati. Alhasil memendam lama, dan pecah di waktu yang entah kapan, yang pasti dapat meruntuhkan kepercayaan diri dengan sangat dalam.