Publik tersentak dan seolah tidak percaya saat mendengar kabar tenggelamnya sebuah Kapal Motor Penumpang (KMP) di Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara, Senin, 18 Juni 2018.
Sejatinya, kabar kecelakaan di dunia transportasi Indonesia sudah sering terdengar dan saban hari terjadi, tapi yang mengejutkan adalah jumlah penumpang yang berada diatas KMP Sinar Bangun tersebut yang berjumlah 206 orang.
Kapal penyeberangan yang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh. (Dok. Pribadi)
Hingga hari keenam, upaya pencarian dengan melibatkan berbagai pihak seperti Basarnas, TNI/Polri, BNPB, BPBD dan Pemerintah Daerah terus dilakukan untuk menemukan keberadaan para korban. Dari 206 penumpang, 3 orang sebelumnya telah ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa sedangkan 19 lainnya dalam kondisi selamat.
Ternyata, kecelakaan yang terjadi di Danau Toba, kawasan wisata yang sudah dikenal dunia internasional itu bukan hanya terjadi kali ini saja dan jika dijumlahkan, 234 orang telah menjadi korban dalam beberapa kali kecelakaan yang terjadi.
Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber di internet, tercatat sudah pernah terjadi 8 kali kecelakaan yang terjadi di Danau Toba sejak tahun 1955 hingga 2018. Selain merenggut 234 korban jiwa, 289 orang lainnya dinyatakan hilang.
Jika dirincikan, kecelakaan pada tahun 1955 ada 55 korban, 1986 ada 4 korban, 1987 ada 2 peristiwa dan merenggut 91 korban, kemudian 81 korban jiwa di tahun 2013 dan 3 korban serta 184 lainnya dinyatakan hilang dalam musibah terbaru yang terjadi beberapa hari lalu.
Memang, kecelakaan KMP Sinar Bangun kemarin merupakan yang terbesar namun tidak menutup kemungkinan, kecelakaan lain akan segera menyusul jika kekurangan dan kesalahan yang terjadi di masa lalu tidak diperbaiki secepat mungkin.
KMP Sinar Bangun. (Foto: Fb)
Kecelakaan yang menimpa KMP Sinar Bangun awalnya diakibatkan oleh cuaca buruk. Hujan dan angin kencang membuat ombak besar melanda perairan Danau Toba dan sekitarnya. Menurut kesaksian para korban yang selamat, pihak kapal memberitahukan sebelum berangkat bahwa itu adalah perjalanan terakhirnya sehingga membuat orang memutuskan untuk segera naik meski muatan kapal sudah penuh.
Hal itu terbukti dari simpang siurnya jumlah korban saat kabar tenggelamnya kapal tersebut beredar akibat ketiadaan manifest. Jumlah korban yang beredar diketahui mulai dari 50, 80, 100, 150 hingga terakhir didapatkan angka pasti sebanyak 204 orang. Selain itu, tidak adanya life jacket juga membuat korban yang berjatuhan kian banyak.
Sementara itu, beralih ke Aceh, kecelakaan kapal terbesar yang masih diingat sampai saat ini adalah peristiwa tenggelamnya KMP Gurita pada tahun 1996. Jumlah korban jiwa dalam peristiwa itu bahkan jauh lebih banyak dari KMP Sinar Bangun. Kelebihan muatan juga diduga kuat menjadi pemicu tenggelamnya KMP Gurita.
Berangkat dari Pelabuhan Malahayati Aceh Besar, KMP Gurita tenggelam pada jarak 5 hingga 6 mil dari Perairan Teluk Balohan Sabang. Dari 378 penumpang, 40 orang berhasil selamat, sedangkan 54 orang meninggal dunia dan 284 orang dinyatakan hilang bersama dengan karamnya KMP Gurita ke dasar lautan.
Dok. Pribadi
Semoga pemerintah segera berbenah untuk memperbaiki dunia transportasi terutama sarana dan prasarana pelayaran yang ada di Indonesia.
Best Regards,
Posted from my blog with SteemPress : https://aneuk-nanggroe.000webhostapp.com/2018/06/belajar-dari-kmp-sinar-bangun-dan-kmp-gurita