Apa yang dikhawatirkan tidak terjadi hari itu. Wajahnya sempat resah, mondar-mandir dengan beban tidak nyaman, seperti menanggung hutang membuncit. Kerap menengadah ke atas, memicing mata menatap langit, entah ia juga merapal mantra macam pawang hujan, aku tidak tahu, ia hanya berharap kali ini saja agar awan mendung bergeser, sejauh-jauhnya kemana saja, asal jangan nangkring di atas atap Bivak Emperom.
Seharian berharap-harap cemas, akhirnya berdesah lega. Hari itu, pagi sampai sore, mendung memang lewat, tapi air tidak jatuh. Sehingga, malamnya ia tidur senyenyak-nyenyaknya. Bergumul entah dengan perasaan apa, aku tahu ia juga membawa bahagia, sisa perayaan ritual peluncuran buku "Judul di Belakang" di kediaman Komunitas
, bilangan Emperom, Banda Aceh. Tempat yang sama, dimana selimut menaungi lelaki kurus itu sambil memeluk erat guling berwarna merah. Biarkan ia tidur, mimpi tau harus berbuat apa. Laiknya arti harfiah akunnya 'ho malam ba,' terserah malam mau membawanya kemana.
Baiklah, selagi pemuda lamno itu memetik bunga tidur, biarkan aku bercerita sebentar, tentang peluncuran buku Judul di Belakang (JdB). Pertama-tama JdB telah membuat salah satu keinginan besarku terwujud, namaku tercetak sebagai penulis. Tidak seperti di buku-buku lain hanya tertera di halaman awal isi, sebagai petugas tata letak. Yah, walau JdB aku juga yang menyetel tampilan luar dalam, namun kebahagiaanya terletak pada permintaan tanda tangan gegara tercantum sebagai salah satu dari delapan penulis JdB.
Selanjutnya tentang kegembiraan di gelanggang peluncuran. Sama seperti aku gelisah juga dengan cuaca yang tiba-tiba sedang dalam sikon yang sulit ditebak. Seperti beberapa minggu belakang saat pagelaran ARTrash. Pembukaan sore itu, hujan mengguyur Emperom dan sekitarnya, masih untung, karena sempat reda sebentar, berkesempatan pembicara membuka acara, tak berapa lama setelah dua musik di lantunkan, hujan kembali menderas cukup lama, ruang pamer
tergenang, sampai beberapa senti di atas mata kaki. Sebagaimana saya dan
, orang
juga berharap hal itu tak terulang, sampai-sampai ada siasat mengumpulkan beberapa biji Steem/SBD, menyewa pawang hujan agar peluncuran JdB berjalan lampias.
Seperti kita ketahui, Minggu, 14 Januari 2018, perhelatan rilis JdB berjalan ceria dan bahagia, di dukung juga oleh cuaca yang elok. Dimana matahari sore di barat, menyaksikan nun jauh disana, satu persatu orang-orang merapat, meramaikan Bivak Emperom. Mereka para stemian yang sebelumnya membuatku segan-segan tatkala mencuri pandang jarak jauh di pertemuan raya KSI Chapter Banda Aceh bilangan Tibang, jadi intim dengan suasana hajatan JdB. Kecuali dengan beberapa teman yang memang sudah jauh-jauh hari saling dekat sebelum sama-sama menyandang lekat status stemian. , aku mengenalnya saat ia kerap bertandang ke kantor Atjeh Post, waktu aku masih berkantor disana bersama
. Di Atjeh Post pula aku kenal dan dekat dengan
dan
. Kalau boleh aku cok laba, jabatanku di kantor media cetak dan online itu lebih tinggi dari kedua pentolan
itu. Wkwkwkwk.
Kejujuran tak juga kuhindarkan, bersejawat dengan dan
sedikit banyaknya memantik akal budiku ke wacana-wacana yang lebih lebar dan tak segan-segan kusebut berkelas dan beda. Jika seandainya aku tak bergiat di
berserta orang didalamnya, maaf, bakal panjang jika kusebut satu persatu, dapat kupastikan aku akan berakhir di bawah tempurung entah macam apa. Hari besar berkelindan dengan stemian hebat dalam jamuan besar luncur JdB tidak bakal kurasakan. Entah kata apa yang pas kutulis untuk menggambarkan hajatan itu.
Menjadi stemian juga menjadi hal yang patut kusyukuri, lewat steemit, semangat ku memproduksi tulisan yang kumulai sejak duduk di bangku SMA jadi membara, sampai-sampai namaku terbit sebagai penulis buku keroyokan bersama genk . Di area Bivak Emperom buku itu kemudian dibedah oleh
, namanya sudah kukenal saat ia rajin menulis di Kompasiana, bertandem dengan Putra Hidayatullah, di moderatori oleh Miswar Ibrahim Njong. Sementara itu, dari alat pengeras suara dendangan akustik No Kolor Day tampil apik, lebih-lebih munculnya pemain Cello yang sebelumnya tidak pernah ada dalam sejarah even
, membuat orang-orang dari berbagai undangan yang hadir, makin heboh dan rancak.
Terakhir aku berterimakasih terutama kepada semua yang hadir, kepada ,
,
,
,
,
,
,
,
,
,
,
,
,
,
, tim
, genk ADC lainnya, aku tak menduga bakal menjamu jiwa-jiwa yang sangat rendah hati. Juga seluruh stemian dan calon stemian yang mohon maaf sekali lagi tak kusebutkan satu persatu, yang tahulah tulisan ini kian panjang dan membosankan, tapi bersama kalian sore itu jadi hari besar bagiku. Aku berharap kita dapat berhajat dalam even yang lebih besar nanti, dengan proyek-proyek besar, untuk komunitas, untuk keberhasilan kita semua, para pengguna steemit tercinta.