Tak elok rasanya jika saya tidak melanjutkan postingan Mimpi, Macet dan OTW Bandung yang saya tulis ditengah kepala sedang puyeng, sebab baru bangun dari mimpi saat dalam mobil. Ditambah mabuk dan bosan dalam perjalanan sang han trôk-trôk lé bak tajak, kiraju. Tatkala terjebak macet di perjalanan sungguh membuat kau menyesal sudah bepergian. Apa boleh buat sudah setengah jalan.
Bagaimanapun, sampai juga di Kota Bandung sekira pukul sembilan malam, tak sampai larut seperti yang saya perkirakan sebelumnya. Saat jemputan datang, kami lanjut menyusuri Ibu Kotanya Jawa Barat, sampai kemudian kami turun di tempat penginapan Villa Neglasari, bilangan Cimahi, Kabupaten Bandung. Tempat dimana tujuan saya datang mengikuti 1st Steemit National Meetup Komunitas Steemit Indonesia (KSI), Jumat, 16 Februari 2018.
Saya, ,
, dan
tiba pada kamis malam sekira pukul sepuluh. Kami disambut oleh beberapa stemian yang sudah duluan hadir, semuanya dari Aceh, yang saya kenal akunnya cuma
,
, dan
penjaga gawang
biro Jakarta, tentu satu lagi kakak kita
yang ehem itu. Di sebuah joglo yang terpacak di tengah kolam berisi lele dan nila, kami duduk ngobrol semeja sampai kantuk melanda.
Pagi esoknya, gelombang stemian bermunculan lebih banyak lagi dari berbagai daerah. Puncaknya menjelang sore, saat berkumpul bersama seluruh stemian yang hadir di gelanggang DPRD Cimahi, di sini perhelatan digelar dengan acara pembuka melukis spontan yang dilakukan oleh seniman nasional Bahar Malaka. Tampil nyentrik khas geng motor, Bahar melukis diiringi musik country yang dibawakan oleh genknya sendiri bernama President Rock and Roll.
Lalu berlanjut ke pagelaran diskusi yang pembicaranya di isi oleh para petua stemian, mereka yang duduk di kursi depan ada ,
,
dan beberapa lagi yang tidak saya kenal nama akunnya. Satu persatu para pembicara kebagian mic, mereka mengobrol seputar permasalahan, solusi, dan cara-cara bagaimana menjadi stemian yang tahan banting, meski terbuat dari bahan mudah pecah. Dari barisan para pendengar, puluhan stemian di beberapa daerah Nusantara menyimak dengan takzim.
Menurut saya, steemit dan komunitas bagai dua sisi mata uang, saling berkelindan, bakal tak laku itu uang kalau memang dipaksa dipisahkan. Artinya stemian tanpa komunitas sama saja mengarungi lautan sendirian dengan sekoci. Memancing tanpa bekal apa-apa. Dengan adanya komunitas setidaknya ia tahu cara-cara mendayung yang benar, tahu bagaimana mengail dengan joran yang berkualitas dan lemparan umpan di tempat yang punya peluang dimakan ikan-ikan besar.
Yang paling saya sukai saat meet up adalah bisa bertemu dengan orang-orang baru di tempat berbeda dengan minat yang sama, saling berkarya untuk berbagi. Kekuatan ini yang membuat saya rela terbang dari Aceh menuju Bandung, Jawa Barat. Ya walau tak saya pungkiri, bahwa di meet up nasional perdana ini, Bandung itu sendiri adalah salah satu dari daya tarik. Label kota seni dan kreatif yang ingin sekali saya jajaki. Tak berlebihan, rasanya jika saya bukan stemian maka cita-cita ke Bandung akan sulit terejawantah.
Ada sedikit persoalan yang tidak sedap ketika seharian kami mengikuti meet up, bukan apa, ini tentang kami tanpa asupan kopi yang paih nah. Panitia memang menyediakannya, tapi berkemasan saset, kapal api wak, duh, bolehlah untuk meredam sementara urat-urat ketegangan. Menjelang acara selesai di pendopo DPRD Cimahi, kami sempat menghalau bosan menyusuri jalan menapakai kota. Tak sengaja kami ketemu warung kopi yang interior desainnya cukup eye catching, Common Place namanya. Seduhan kopi Arabika mereka cukuplah memulangkan segala kewarasan yang di renggut segala kemacetan celaka itu.
Malamnya, para stemian pelaku meet up dilanjutkan dengan khanduri makan-makan, gelaran bersaji prasmanan lehesan di joglo tengah kolam. Saya yang keduluan kenyang ketika ngopi di Common Place, tidak bisa kumpul bareng, maklum steempower perut saya agak terbatas, makan sedikit sudah kenyang betulan, padahal masuk angin. Lagee apam. Ritual makan tetap harus dijalankan, tatkala saya, , dan
hendak ke joglo berkumpul dengan para stemian. Kami ketemu dengan genk pelukis Bahar Malaka di joglo sisi lain. Makan kami tunda, ngobrol-ngobrol dengan Bahar Malaka pilihan bagus untuk bercakap-cakap di pelukan dingin malam.
Bahar Malaka bersama kawan-kawannya di komunitas President Rock and Roll, sengaja menghadiri kami para stemian. Katanya ia suka bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai tempat. "Saya kesini supaya kawan-kawan bisa merasakan keakrabatan di tempat berbeda, jika bertemu ke kami, nanti kalian tidak merasa di tempat asing, tapi memang di tempat sendiri," ujar Mahar Malaka. Ia juga menyentil pernah ke Sabang dan kagum dengan pesona Aceh. "Saya sedih waktu pulang dari Sabang" kata Mahar Malaka dengan intonasi yang agak slow motion gitu. Sementara kami banyak bertukar obrol dengan Bahar Malaka, sedang tampil bermusik di joglo sebelah, menyemarakkan penutupan meet up. Sebelum Bahar Malaka pamit puang, ia sempat bertukar kaos dengan
.
Suguhan 1st Steemit National Meet Up KSI, membuat saya terkagum, pilihan penginapan para stemian di villa juga punya sentuhan tersendiri, suasananya villa yang di desain cukup nyaman dan memesona. Ikan-ikan banyak berjalan kesana kemari di kolam-kolam. Seperti menyaksikan kumpul raya perdana skala nasional itu. Finally, Terimakasih kepada panitia acara, yang sudah menyiapkan acara begitu rupa, sajian makanan yang enak-enak, kendati minim kuwah. Ke depan semoga bakal ada perhelatan selanjutnya yang tak kalah memukau dan berjalan ceria. Sampai jumpa. Oh ya di Bandung kami masih ada cerita selanjutnya. Tunggu aja gak berat.