Itu sudah lama ada, pakek banget pula. Bisa ratusan bahkan ribuan tahun silam. Lebih jauh lagi kukira. Kita ini yang baru kemarin menginjak perut bumi, apalah itu. Sebentar, kusetel Three Little Birds dulu di yutub, biar aku lancar mengetik kata-kata selanjutnya postingan ini. Jadi begini, pernah dengar Tansaran Bidin? Kira-kira sejak kapan air terjun itu sudah ada? Tak usah dijawab, pertanyaan konyol emang.
Kesanalah aku dan beberapa kawanku membuang bosan. Suatu pagi yang dingin pertengahan 2016, berangkatlah kami dengan tiga sepeda motor. Masing-masing duduk dua orang di atasnya. Menyusur jalanan Bener Meriah, benar-benar membuat kami harus mengenakan jaket erat-erat. Iseng, aku sempat membayangkan betapa aduhainya jika yang dibelakangku duduk seorang perempuan. Tanpa kuminta tentu ia akan memelukku, sampai aku sulit bernapas. Tak usah kuperpanjang saja dibelakangku memang kawan berkelamin sebaliknya.
Berbekal tanpa ada yang tahu dimana letak Tansaran Bidin berada, jadilah kami bertanya sana-sini. Sebelumnya kami sempat mengandalkan gugel maps. Celakanya aplikasi itu membuat kami bingung lalu menyasar entah kemana-mana. Hingga keluar dari jalan beraspal kemudian masuk ke jalan berdebu, kanan kiri perkebunan. Ujung jalan tak meyakinkan. Kami berhenti sebetar, bersepakat, kesimpulannya seratus persen kami sedang di jalan yang tidak benar. Balik Arah.
Usai mengisi bahan bakar kami mengandalkan penunjuk arah tradisional. "Maaf buk, air terjun Tansaran Bidin arahnya kemana ya?" Si ibu penjual gorengan memasang tampang bingung. "Saya tidak tahu, saya baru dua bulan jualan di sini, saya bukan berasal dari daerah sini, coba tanya ke orang lain saja." Salah orang ternyata. "Terimakasih Buk." Aku berlalu menenteng seplastik gorengan. Aku naik di belakang motor. Gantian kawanku yang didepan.
Agak rumit kuceritakan bagaimana akhirnya kami tiba di Tansaran Bidin. Setelah melalui serangkaian kesesatan di jalan, sampai-sampai sempat pula melewati jalan yang sama dua kali. Sekian orang yang kutanya banyak yang tidak mengerti, malah ada yang tidak tahu ada air terjun di kota dingin penghasil kopi itu. Sial bertubi-tubi. Untung ada seorang lelaki paruh baya yang sepertinya menangkap gelagat kami yang sedang putus asa. Ia menghampiri dengan sepeda motor merahnya, lalu kami menjelaskan tujuan. Untungnya lagi ia tahu tempat wisata itu sekaligus rela mengantar kami setengah tujuan. Tentu saja kami kegirangan dan berterimakasih, tak lupa berdoa semoga ia dimudahkan dapat istri kedua, ketiga dan seterusnya kalau ia mau.
Rumit juga kujelaskan bagaimana banyaknya belokan yang kami lalui. Yang jelas kami sampai pada sebuah bukit yang ada kedai dibuat dari kayu, tapi ditinggal kosong, tak ada penjual. Tak ada orang lain juga selain kami. Hanya ada sepeda motor terparkir begitu saja tanpa tuan. Kami menduga pemiliknya juga menuju air terjun. Kami memilih parkir di sisi lain. Lantas kami berjalan kaki menuruni bukit berdebu yang kami yakini kali ini kami di jalan yang benar. Dan, ya ampun jauhnya, entah berapa kilo kami harus menyusuri hingga udara dingin terasa panas karena berjalan tak sudah-sudah. Naik turun bukit menerobos hutan.
Ketika sesampai disana, kami lumayan terpukau. Indah betul. Sayangnya tak tempat untuk pemandian. Padahal aku dan kawan-kawanku sudah lengkap membawa perkakas berenang sepuasnya. Air jatuh yang mengucur sangat deras itu menghantam bebatuan di bawahnya. Untuk mencapai ke sana juga tak mudah. Harus menuruni lagi bukit yang curamnya sungguh mengerikan. Salah-salah menaruh pijakan, kau bisa diangkut tanpa nyawa dari bawah sana. Dan memang sudah ada nyawa yang terenggut sebelum kami kesana. Korbannya, seperti yang kubaca di surat kabar adalah pasangan yang hampir nikah. Mereka terpeleset ketika sedang asik mengambil swafoto. Sungguh tragis.
Ada gundukan tanah yang bisa berdiri sekira tiga orang tepat di depan air terjun. Jika ke sana kau harus berhati-hati, seperti kataku tadi. Berkali-kali aku ingatkan kawanku yang hendak mau kesana. Jangan karena hendak mengambil foto yang dijamin banyak mengundang jempol jika kau unggah ke akunmu itu. Salah-salah kau bisa duluan diremukkan bebatuan di bawah sana sebelum foto terpajang. Pasangan tak beruntung itu, aku menduga mereka nahas saat berswafoto di gundukan kecil itu.
Tak hampir sejam kami menikmati pemandangan surgawi itu. Dahaga yang luar biasa membuat kami cepat-cepat naik pilih pulang. Dan sial sesialnya tak seorang pun dari kami yang membawa air mineral. Di tengah jalan pulang terpaksa kami menenggak air sungai yang kebetulan kami lewati. Lumayan untuk meredam kering tenggorokan. Penelusuran pulang sama celakanya. Lebih celaka lagi terik matahari tepat di ubun-ubun. Bikin gerah cepat menyerang kembali. Bayangkan seorang yang lelah bertenaga sisa, kehausan berat, menapakai tanjakan yang luar biasa tingginya. Aku sempat berhenti beberapa kali memulihkan diri sembari menarik napas dalam. Beberapa kawanku bertenaga badak, enteng saja sampai di puncak. Sialan.
Sesampai di tempat parkir aku masih terengah-engah serasa ingin mati. Aku terduduk kembali mereset ulang tenaga sembari menikmati bukit-bukit yang elok memanjang jauh disana. Kedai-kedai yang tak lagi menjajakan makan minum kukira karena insiden pasangan malang yang gagal menikmati malam pertama. Akibatnya lagi, kami terpaksa menahan dahaga lebih lama lagi, sampai kami temui warung di jalan pulang saat memasuki perkampungan. Seliter mineral kutenggak habis-habisan.
Aku merasa seperti tentara yang sudah lama terjebak di padang pasir, hampir mati kehausan sebelum akhirnya terselematkan entah bagaimana, layaknya di film-film tentunya. Maka karena pengalaman yang tak enak diceritakan itu, aku akan memikir dua kali jika ada yang mengajakku kembali ke Gampong Tansaran Bidin, Bener Meriah, Aceh. Kendati indahnya benar-benar indah betul.