Aceh memiliki beragam suku dengan kekayaan nilai budayanya sendiri. Setiap daerah memilki kebudayaan yang berbeda-beda. Dalam hal proses penyambutan tamu misalnya, di Kabupaten Pidie setiap ada tamu kehormatan yang datang akan di sambut dengan tarian Ranup Lampuan, sedangkan di daerah Gayo Lues akan di sambut dengan Tarian Guel.
Selain hal tersebut, masih banyak budaya-budaya lain seperti budaya Merantau yang ada di Kabupaten Pidie. Budaya ini sudah dilakukan sejak dulu dan turun temurun hingga sekarang. Kebanyakan mereka yang merantau identik dengan dunia perdagangan, bahkan tidak sedikit dari mereka yang sudah menjadi Toke ditempat mereka bekerja.
Anak muda yang tidak ada kerja atau pengangguran umumnya mereka akan di dorong oleh orang tuanya untuk merantau. Awal mulanya mereka mengikuti teman atau saudaranya, mereka menyebar ke seluruh wilayah Aceh dan bahkan hingga keluar negeri. Pekerjaan serabutanpun menjadi hal yang lumrah dikalangan mereka.
Faktor kesuksesan mereka dalam berdagang biasanya dipengaruhi dengan politik dagang yang diterapkan, mereka menganut sistem politik modal siploh di peubloe sikureung, lam tiep-tiep ruweung na laba. Artinya barang dengan modal sepuluh mereka jual dengan harga sembilan, bila diamati maka kerugian yang akan di dapat. Namun tidak demikian, sistem dagang seperti ini malah menarik minat konsumen sehingga lama kelamaan menjadi pelanggan. Bukan rugi yang didapat melainkan keuntungan dengan penjualan barang dalam jumlah banyak.
Setelah sukses dalam perantauan, biasanya mereka pulang ke kampung halaman di hari Lebaran Bulan Ramadhan. Tidak heran mengapa Pidie selalu macet apabila lebaran tiba, hal ini karena semua anggota keluarga yang berada di perantauan akan kembali pulang ke rumah ibu bapaknya masing-masing.
Uniknya, kepulangan mereka tersebut akan diwarnai dengan berbagai macam cara, misalnya membawa pulang mobil mewah untuk menujukkan keberhasilan mereka, dan tidak sedikit pula yang pulang untuk memetik bunga yang sudah ditanda (Meukawen). Sangat jarang dari mereka yang menikah di perantauan kecuali gagal dan takut pulang karena malu.
Umumnya masyarakat Pidie mengenal istilah merantau dengan dua kategori, Pertama pergi ke barat dan Kedua pergi ke Timur. Pergi ke barat diartikan sebagai merantau untuk memperbaiki nasib dengan bekerja hingga sukses dan mandiri dalam hal ekonomi. Sementara pergi ke barat diartikan sebagai merantau untuk menuntut ilmu, baik itu ilmu agama, pendidikan dan sebagainya.