Selamat pagi Dunia..
Secara waktu Aceh merupakan daerah ujung barat Indonesia yang terakhir disinggahi matahari pagi setelah memulai lawatannya mulai dari Pulau Irian, Pulau Jawa sampai ke Pulau Sumatera.
Sebagai penghuni Pulau Sumatera, Aceh berada diposisi paling ujung yang merupakan salah satu pintu gerbang nusantara Indonesia dalam hubungannya dengan dunia.
Aceh punya gaya hidup yang khas, disamping nilai-nilai spiritual menjadi nafas kehidupan masyarakat juga semangat bersilaturrahmi menjadi modal untuk membangun nilai kebangsaan dan nasionalismenya.
Geliat spiritual dan silaturrahmi dapat dilihat dari cara Aceh memulai kehidupannya, selalu setelah Ibadah Subuh dilaksanakan kedai kopi/warung kopi segera membuka diri. Menikmati segelas kopi sambil bertukar informasi 1 jam sebelum kembali melaksanakan rutinitas menjadi kebahagiaan tersendiri. Tradisi itu telah menjemput semangat Aceh untuk terus bangkit.
Gambar : Kedai kopi sewu, simpang ilie Banda Aceh.
Maka tidak heran betapa beratpun konflik bersenjata dan bencana alam yang dialami oleh Aceh, dia tetap mampu bangkit menyongsong matahari pagi. Kekuatan-kekuatan ini terus menjadi pelajaran bagi dunia sampai saat ini. Tidak sedikit peneliti dan ilmuan dunia terus berdatangan ke Aceh untuk belajar dan menyampaikan pengalaman Aceh kebelahan dunia lain tentang arti penting perdamaian dan ketangguhan menghadapi bencana. Dan untuk mendapatkan informasi tersebut para peneliti dari manca negara harus mampu bertahan berjam-jam lamanya di kedai kopi untuk melakukan wawancara.
Gambar : Kedai kopi sewu, simpang ilie Banda Aceh.
Seduhan racikan kopi yang khas adalah simbol Aceh yang melambangkan kemuliaan orang Aceh. Kopi saring sebutan kami di Aceh, melambangkan sederas apapun budaya dan tradisi yang dibawa bangsa lain ke tanah Aceh tetap mampu di saring dengan baik hingga kemanfaatannya murni terlihat dapat dinikmati masyarakat. Sebagai contoh pada saat Aceh ditimpa Tsunami dukungan dan pertolongan datang dari berbagai belahan dunia, mereka menetap untuk waktu yang cukup lama. Namun Aceh tetap terlihat beda karena kemampuan menyaring.
Gambar : Kedai kopi sewu, simpang ilie Banda Aceh.
Simbol filosofi berikutnya dan tidak kalah penting dari saring kopi adalah Aceh tidak pernah menilai apapun dari warna, rasa dan harganya. Aceh tidak akan menyamaratakan semua air hitam itu kotor, yang pahit itu tidak enak dan yang murah itu tidak berkualitas. Aceh memegang teguh kepentingan sesuatu itu pada kemanfaatan bagi dirinya dan rakyatnya dengan bungkusan rapi keihklasan serta persaudaraan. Maka itu semua suku, warna kulit dan kelas bangsawanpun (ampon/cut) atau rakyat biasa, tetap dapat hidup berdampingan saling menghargai dan mendukung satu sama lain.
Gambar :
Mari pertahankan yang Aceh punya, karena untuk dapat menjadi bangsa yang maju Aceh tidak perlu menjadi orang lain karena tujuan yang benar adalah harus lebih baik dari orang lain. Spiritualitas dan Silaturrahmi adalah kekuatan maha dahsyat untuk bertahan ditahta dunia sebagai Bangsa Mulia.