** suatu pagi, aku duduk diteras rumah sambil melihat anak-anak sekolah lewat, kenapa aku bilang anak-anak sekolah, sebab ibunya disekolah dan bapaknya disawah.
Ada seorang anak berseragam rapi dan rambut belah tengah, dan dikampung dikenal bandel, entah ya entah tidak, akupun juga tidak tau karena hanya mendengar kabar dari mulut ke mulut.
Dia melintas di depan sambil siul-siul...akupun mencoba menyapa dengan sapaan seperti kawan.
Hei agam (sapaan untuk anak laki-laki) pakon seunang that hate uroe (kenapa senang sekali hari ini).
Lalu dia menjawab, meunoe, peu yang ta peususah droe teuh, tajak sikula yang na jai si PR laen siet tan (begini, untuk apa menyusahkan diri, kesekolah yang banyak cuma PR lain memang tidak.
Akupun meninggi suara sedikit, bukan yang aku nanya kau jawab,. Kenapa kau senang hari ini.
Kon senang hai bang, tapi nyoe peuseunang droe karena PR hana ku peugot, ka payah doeng lam uroe tarek (bukan senang bang, tetapi ini menyenangkan hati karena PR tidak aku buat, harus berdiri di tarik matahari.
Oh meunan, get lanjut laju sikula ( begitu, baik lanjutkan sekolah.