Halimah peremuan paruh baya pernah bermimpi tentang masa depan bangsa ini akan baik-baik saja tanpa tumpah darah dan air mata para janda, semua itu tentu saja dengan kesadaran dan tingginya ilmu pengetahuan, nenek moyang dulu juga pernah mengatakan bahwa air akan mengalir dalam besi dan api hidup dalam tali. Semua itu terbukti ketika listrik ada dan airpun begitu.
Tetapi impian ini hanya sekedar mimpi karena semua yang mengatakan kemajuan hanya sekedar coleh saja, coba kamu lihat bagaimana rusaknya sendi-sendi kehidupan masyarakat ketika konflik dulu, bagaimana nasib para janda akibat dari beringasnya perilaku manusia, menghilangkan suami orang hingga kini masih dicari.
Ketika sudah menghilangkan orang secara paksa, malah bersikap seperti tidak ada kejadian apa-apa, para janda terus menuntut pemerintah untuk mengungkapkan kebenaran atas peristiwa yang pernah dialami, pemerintah seperti tidak ada mental atau memang sudah buta terhadap kondisi, dulu mengatakan melawan untuk menuntut keadilan tetapi kita kekuasaan sudah ditangan, malah kebenaran itu diselimuti dengan nasehat-nasehat suci agar orang bisa menghilangkan peristiwa masa lalu.
Sikap jawai ini kemudian membuat kita terus melawan agar pemerintah membuka mata bahwa peristiwa masa lalu belum selesai kalau belum dilakukan proses pengungkapan kebenaran, coba saja lihat lembaga yang sudah dibentuk, seberapa peduli mereka terhadap lembaga itu, berapa kali pernah pemerintah mengatakan bahwa mendukung sepenuhnya lembaga tersebut.
Peristiwa masa lalu terus dijual ketika musim politik tiba, hingga sekarang ini hanya menjadi mimpi tentang keadilan dan kebenaran karena pemerintah sudah tidak ada lagi, mereka hanya membuat negara ini banyak investor dan tidak mau tau nasib korban, halimah geram melihat kondisi seperti ini, aku akan mengubur kembali mimpi tersebut, sebab dinegeri tidak yang bisa diharap, semua orang mengatakan menegakan keadilan tetapi kini mereka sudah melontekan diri.