Terlalu banyak anggapan buruk orang-orang yang selalu mengira orang Aceh malas dilihat dari kebiasaan minum kopi.
Jelas, anggapan ini salah. Budaya minum kopi ini sudah ada sejak kerajaan Samudera Pasai berdiri di bumi Aceh.
Tradisi minum kopi dulunya sebagai bentuk jamuan kekerabatan dan silaturrahmi terhadap sesama rekan, sejawat, dsb.
Warung kopi yang ada di Aceh bukan sekedar tempat orang-orang untuk minum kopi. Melainkan juga transaksi perdagangan, bisnis, diskusi, negosiasi, temu ramah, dan tempat berdamai.
Warung kopi selalu setia untuk hal-hal yang berbau visi-misi peradaban. Politik, budaya, lobi-lobi, pula emansipasi.
Perlu dicatat, warung kopi memang tempat terbaik bertukar pikiran di Aceh, namun tidak serta merta bebas dari wacana Syariat Islam. "Ngopi tetap, syariat juga terus jalan".
Ada teman terbaik kala minum kopi. Yaitu Adee, ketan srikaya, dan Putu Aceh. Yummy!
Penganan pilihan terbaik yang hanya ada di tanah perjuangan ini.
Tetap semangat, tetap berimajinasi, dan jangan lupa minum Kopi.
Salam Literasi.
Hidayatullah Habibi
Rakyat jelata