Menghabiskan masa kecil di #aceh Tamiang, aku kecil melihat dunia ini sebatas deretan pohon sawit, aliran sungai Kaloy dan banjir bandang yang datang setiap musim. Jalanan yang kerap rusak mampu menghambat imajiku akan keberadaan dunia luar yang warna-warni. Sesempit itu...
Di dusun aku tinggal, debu-debu musim kemarau beterbangan melapisi segala yang ia sapa. Di dusun aku tinggal hujan yang menderas di akhir tahun mencipta kubangan lumpur di jalanan yang semakin mengisolir kami.
Meski aku lalu diantar bapak bersekolah dan kuliah di luar Aceh Tamiang, aku masih tak punya bayangan akan menjejak tempat yang lebih jauh. Kota terjauh dalam jangkauan akalku adalah Banda Aceh.
Hingga lelaki itu datang di kehidupanku. Ia dengan percaya diri tinggi menawarkan mimpi-mimpi gila yang sebenarnya tak aku percaya sedikitpun. Aku hanya mengangguk karena aku jatuh cinta padanya. Ia punya poster besar berisi segala yang ia impikan. Salah-satunya adalah keliling dunia. Aku berkata padanya, "Wow, kamu sangat visioner!" Sedang hati kecil membatin "Ini sulit. Bagaimana kamu bisa pergi?"
Selang beberapa tahun, dia memang membawaku keluar Aceh menuju Jakarta, ibu kota yang dipenuhi ragam wajah. Tapi tetap saja, pernyataan akan keliling dunia itu terlalu berlebihan.
Hari ke hari, dia terus berkisah tentang tempat-tempat asing dan cara-cara yang bisa ia upayakan untuk ke sana. Aku masih mendengar tapi kepalaku tak lagi mengangguk. Aku mulai mendengar dengan cemberut. Nyatanya, aku mengasihaninya dengan ide-ide liar yang tak mau pergi dari kepalanya.
Kadang kala, kuberanikan diri untuk menghentak kesadarannya dengan berkata, "Meski tak melihat dunia luar, kita bahagia kok di sini. Kita sudah punya dunia kita sendiri." Ia menggeleng keras... membuat kesal. Apa semua laki-laki sekeras kepala dirinya?
Hari terus berlalu, poster di dinding mulai kusam. Tinta spidol yang awalnya terang, memudar. Cicak-cicak secara kurang ajar mondar-mandiri menjejak di sana meninggalkan noda. Aku pasrah tak berniat membersihkan noda itu.
Hingga suatu siang, ia menelepon dari kantor dengan suara bergetar.
"Kita akan ke Antananarivo."
"Kemana?"
"Madagaskar!"
"Madagaskar?"
"Ya.... itu di Afrika. Madagaskar akan menjadi permulaan. Kita akan kemana saja di dunia ini."
Dan inilah aku.... narsis di depan Baobab, pohon endemik Madagaskar yang berusia ratusan tahun tanpa tahu malu padahal sempat meragukan lelaki yang membawaku ke mari.