Bukan sekali dua kali saya mendapati, bahwa terdapat satu fenomena yang mungkin sulit kita percayai, yaitu mentertawai kematian dan kesakitan, atau katakanlah konflik Aceh secara keseluruhan.
Maksud saya adalah kematian dan kesakitan yang dilakukan dengan sadis dan biadap, seperti yang pernah dilakukan oleh TNI dan Polri di Aceh. Apakah itu tidak lucu? Bagi kami orang Aceh itu sangat lucu. Ada berbagai alasan untuk kami menganggapnya sebagai lucu dan pantas ditertawakan. Salah satunya karena sampai sekarang, belum ada satupun pelaku yang diadili di negara hukum ini.
Contohnya saja kasus pembantaian secara kebinatangan di Idi Cut, yang kemudian dikenal dengan Tragedi Arakundoe, yaitu satu tragedi penembakan yang kemudian menenggelamkan korbannya ke dalam sungai Arakundoe, setelah sebelumnya diikat dengan batu dan dimasukkan dalam karung.
Kasus tersebut masih terus diingat turun temurun oleh orang Aceh hingga sekarang, selain puluhan kasus monumental lainnya, yang juga dilakukan tentara pemerintah. Bahkan beberapa hari yang lalu, tepat pada tanggal 3 Februari, kami baru saja mendiskusikannya kembali dan tentunya tidak lupa kami mentertawainya secara berjamaah.
Bagi kami, tertawa memang harus terus dijaga, selama jeritan hati dan tangisan inong balee, anak yatim dan piatu, serta mereka yang kehilangan keluarganya tetap ada. Sungguh, tertawa itu sangat berarti bagi orang Aceh, karena ia adalah sumbangan terbesar selama dan sesudah konflik kekerasan di Aceh, baik yang diberikan oleh pelaku, korban dan orang-orang yang mengambil keuntungan di dalamnya.
Melalui tawa, kita pun tahu, bahwa Aceh masih dalam kondisi konflik, kendati damai sudah ditandatangani. Karena dalam kondisi damai pun, masyarakat belum mendapatkan panggungnya, untuk hidup tanpa adanya berbagai tekanan. Rakyat hanya bisa tertawa. Politikus goblok, kaum terpelajar yang banyak minum obat tidur, dan pemimpin yang bermental lamiet adalah sebagian kecil yang pantas ditertawakan.
Di sini, penandatanganan nota damai pada 15 Agustus 2005 dapat kita lihat hanya merupakan satu peralihan konflik semata, yaitu dari konflik kekerasan pada konflik yang lebih tajam, menusuk, dan lebih menyakitkan. Dalam kondisi ini, semua bahkan tanpa harapan dan kepastian. Pun tidak ada nota yang akan ditandatangani kembali. Hanya janji kosong belaka.
Tawa masih saja menjadi kunci, tanda diserahkan semuanya oleh masyarakat pada sang Ilahi. Ya, jika pada manusia tidak dapat lagi kita berharap, maka kita kembalikan semuanya pada pemilik semesta jagad raya ini, untuk diselesaikan dengan caranya.
Semua telah berubah dalam waktu penantian yang tidak pendek ini. Tidak terkecuali memori tentang kekerasan itu sendiri. Rentetan-rentetan kekerasan yang pernah terjadi di Aceh itupun seperti telah mendapatkan panggung barunya, untuk menjadi obat penyembuh, sebagai katarsis bagi semuanya.
Ya, itu terlihat lucu dan misteri sekali. Seperti lucu dan misterinya senyum orang Aceh yang diperlihatkan oleh pepatah serdadu pada pos-pos penjagaan di masa konflik;
"orang Aceh, siang lempar senyum, kalau malam lempar granat".
Yang pasti, antara senyum, tawa dan tangis adalah sama pentingnya dalam kondisi sinting apapun.
Selamat sore. Selasa/6/2/2018/ Yogyakarta.
Sumber foto: https://acehabad.blogspot.co.id/2016/03/sebuah-catatan-soal-pelanggaran-ham.html